Sunday, 19 April 2026

Melekan, Tradisi Lisan Khas Indramayu yang Sarat Nilai dan Perekat Sosial

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu — Tradisi melekan masih bertahan sebagai warisan budaya lisan masyarakat Indramayu yang sarat makna, mengedepankan sopan santun, serta menjadi media komunikasi halus antargenerasi. Tradisi ini diwariskan turun-temurun melalui permainan kata, pantun, atau syair berisi nasihat, sindiran, hingga ungkapan perasaan. (18/4/26)

Secara konseptual, melekan bukan sekadar percakapan biasa. Pesan disampaikan secara tidak langsung melalui bahasa kiasan yang berirama, mencerminkan karakter masyarakat yang menjunjung tinggi etika komunikasi dan keharmonisan sosial.

Tokoh masyarakat Kubanggading, H. Sanafi (62), menjelaskan melekan berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter sekaligus perekat hubungan sosial.

“Melekan dilakukan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara adat, pernikahan, hingga percakapan sehari-hari. Pesan moral disampaikan tanpa menyinggung perasaan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, dua pihak atau lebih saling melempar ungkapan berirama. Pola komunikasi ini menciptakan suasana cair, akrab, dan penuh kehangatan di tengah masyarakat.

Senada, warga Kertanegara, Rusidi (58), menekankan pentingnya melekan dalam menjaga kekayaan bahasa daerah.

“Tradisi ini menjaga kosakata lokal agar tidak punah dan menjadi ciri khas komunitas,” katanya.

Mulai Tergerus Zaman, Perlu Pelestarian

Meski masih dijumpai di sejumlah wilayah, khususnya pedesaan, eksistensi melekan mulai berkurang di kalangan generasi muda. Perubahan gaya komunikasi akibat perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama.

Padahal, secara sosial, melekan memiliki fungsi strategis sebagai media silaturahmi. Tradisi ini umumnya dilakukan pada malam hari di ruang komunal seperti pos ronda, beranda rumah, atau lumbung padi (leuit), setelah aktivitas harian selesai.

Selain mempererat hubungan antarwarga, melekan juga mengajarkan komunikasi efektif yang tetap menjaga perasaan lawan bicara—nilai yang relevan di tengah dinamika sosial modern.

Warisan Budaya yang Harus Dijaga

Dengan nilai-nilai luhur yang dikandungnya, melekan tidak hanya menjadi tradisi hiburan, tetapi juga jembatan budaya yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar leluhur.

Pelestarian melekan dinilai penting agar identitas budaya lokal tetap hidup dan tidak tergerus arus globalisasi. Kolaborasi masyarakat, tokoh adat, hingga pemerintah daerah diperlukan untuk memastikan tradisi ini terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

(Amri-untuk Indonesia)