Thursday, 02 April 2026

Panen Padi di Haurgeulis Mundur, Harga Gabah Menguntungkan Petani

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu — Panen raya padi di Kecamatan Haurgeulis belum berjalan serentak seperti musim-musim sebelumnya. Kawasan yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama Indramayu itu diperkirakan baru mencapai puncak panen pada akhir April 2026, jauh bergeser dari pola umum Februari–Maret. Kondisi ini terkonfirmasi dari lapangan, di mana sebagian besar lahan masih menunggu masa panen. (1/4/2026)

Petani senior Sukajati, Awang (52) atau Kacung, menjelaskan bahwa faktor cuaca dan tekanan hama menjadi penyebab utama keterlambatan. Menurutnya, baru sebagian kecil area pertanian yang sudah dipanen, sementara penyerapan gabah oleh pedagang dan Bulog masih rendah akibat pasokan yang belum stabil.

Variasi jadwal tanam turut memperlebar ketidaksinkronan panen. Soni (61), petani Desa Sumbermulya, menyebut perbedaan pola tanam antar-kelompok, perbedaan waktu penggunaan irigasi teknis, serta hujan yang tidak merata membuat panen setiap blok lahan berjalan sendiri-sendiri. Ia menilai kombinasi faktor teknis dan iklim menciptakan jeda panen hingga beberapa minggu antar-petani.

Haurgeulis secara historis mencatat produktivitas di atas 6 ton per hektare, namun dinamika cuaca ekstrem pada awal 2026 mengubah pola musim. Curah hujan transisi yang tidak stabil dan kondisi lembap berkepanjangan meningkatkan intensitas serangan wereng dan penggerek batang, sehingga banyak lahan menunda panen demi menjaga kualitas hasil.

Ketidakteraturan pasokan berdampak langsung pada dinamika harga. Tidak adanya lonjakan suplai dalam waktu bersamaan membuat harga gabah di tingkat petani justru lebih tinggi dibandingkan musim panen raya normal. Kacung dan Soni mengakui situasi ini memberi keuntungan bagi petani, meski di sisi lain menyulitkan Bulog melakukan serapan besar karena harga pasar berada di atas ambang acuan.

Pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500/kg untuk semua kualitas. Di lapangan, nilai transaksi sering melampaui angka tersebut karena permintaan tetap kuat sementara pasokan datang bertahap. Kondisi ini memberi ruang marjin lebih luas bagi petani yang melakukan panen pada fase awal.

Kualitas gabah musim ini bervariasi. Sebagian besar hasil panen memiliki kadar air ideal, namun sebagian lainnya melebihi 30 persen akibat panen dilakukan saat curah hujan masih tinggi. Variasi kadar air ini menentukan rentang harga, sekaligus mempengaruhi kemampuan Bulog untuk menyerap gabah yang sesuai standar operasional.

Harga beras di tingkat konsumen relatif stabil meski harga gabah naik. Stok nasional yang masih kuat dari panen sebelumnya serta cadangan Bulog yang cukup besar menjadi penyangga utama. Pemerintah menargetkan penyerapan setara 4 juta ton beras sepanjang 2026 guna menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan perlindungan pasar bagi petani.

Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu sebelumnya memastikan target produksi sekitar 1,7 juta ton untuk musim 2025/2026 tetap realistis. Optimisme ini ditopang perluasan areal tanam dan penguatan jaringan irigasi yang sudah berjalan sejak akhir tahun lalu.

Para petani berharap dukungan pemerintah tetap konsisten, terutama terkait benih unggul tahan hama, ketersediaan pupuk subsidi tepat waktu, dan prediksi cuaca yang lebih presisi. Mereka menilai panen akhir April berpotensi memberi hasil optimal jika curah hujan menurun dan intensitas hama dapat ditekan.

Fenomena di Haurgeulis menunjukkan bahwa ketidakteraturan panen tidak selalu identik dengan kerugian. Dalam kondisi pasar yang dinamis, suplai bertahap justru menciptakan ruang harga yang menguntungkan bagi petani, meski tetap menyisakan tantangan dari sisi pengelolaan produksi dan stabilitas pasokan beras nasional.