lognews.co.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dikeluhkan warga di wilayah Kalimantan Selatan. Seorang warga bernama Ramli, yang mengaku tinggal sekitar 30 kilometer dari Banjarmasin, menyebut kabut asap telah berlangsung hampir empat bulan dan semakin parah dalam tiga bulan terakhir. Keluhan tersebut disampaikan Ramli saat diwawancarai dalam program MP3 di Prima 95,8 FM bersama Saheel dan AB pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 20.10 WIB.
Dalam wawancara itu, ia menggambarkan kondisi udara di wilayah tempat tinggalnya yang masih diselimuti kabut asap, bahkan menurutnya berlangsung hampir sepanjang hari.
“Yang kami rasakan ini sekitar sudah hampir empat bulan,” ujar Ramli saat menjelaskan lamanya kabut asap yang dialami masyarakat di wilayahnya.
Menurut Ramli, kondisi kabut asap semakin parah selama tiga bulan terakhir. Ia juga mengatakan belum merasakan turunnya hujan di wilayah tempat tinggalnya selama periode tersebut.
Jarak Pandang Hanya Sekitar 10 hingga 15 Meter
Kabut asap yang menyelimuti wilayah tempat tinggal Ramli disebut berdampak terhadap jarak pandang masyarakat. Ia memperkirakan jarak pandang saat kondisi asap menebal hanya sekitar 10 hingga 15 meter.
“Kalau yang lebih tepatnya sekitar 10 meter atau 15 meter,” kata Ramli ketika ditanya mengenai jarak pandang di wilayahnya.
Kondisi tersebut menggambarkan betapa terbatasnya jarak pandang yang dirasakan warga ketika kabut asap menebal. Situasi ini juga berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.
Ramli menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya terjadi sesekali. Dalam wawancara, ia menyebut kabut asap dirasakan selama 24 jam.
“Iya, selama 24 jam tiap hari itu yang kami rasakan,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi kualitas udara dan jarak pandang tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui pengukuran resmi dari instansi terkait.
Warga Mengeluhkan Gangguan Pernapasan
Selain mengurangi jarak pandang, kabut asap juga dikeluhkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Ramli menceritakan adanya keluhan berupa sesak atau rasa berat di dada, hidung berair, serta batuk.
Ia juga menyebut terdapat warga yang mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan kondisi kabut asap. Dalam wawancara tersebut, Ramli menyinggung adanya kasus batuk berdarah pada warga yang mengalami kondisi lebih parah.
“Biasa, kalau kita batuk-batuk itu sakit dada,” kata Ramli ketika menceritakan keluhan yang dirasakan.
Ia menambahkan bahwa warga yang mengalami kondisi lebih parah perlu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Meski begitu, keterangan mengenai batuk berdarah dan gangguan pernapasan tersebut merupakan penuturan narasumber. Belum ada data medis yang disampaikan dalam wawancara untuk memastikan penyebab maupun jumlah warga yang mengalami keluhan tersebut.
Untuk menjaga kondisi tubuh, Ramli mengatakan dirinya dan warga berupaya memperbanyak konsumsi air putih serta mengonsumsi obat-obatan.
“Satu hari dua liter, tiga liter minumnya,” ujarnya, merujuk pada jumlah air putih yang dikonsumsi untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Anak-anak Ikut Terdampak, Sebagian Belajar dari Rumah
Dampak kabut asap juga menjadi perhatian terhadap aktivitas pendidikan anak-anak. Saat ditanya mengenai kegiatan belajar, Ramli menjelaskan bahwa terdapat anak-anak yang mengikuti pembelajaran dari rumah.
“Bisa tidak berani keluar, tidak berani itu kan belajarnya lewat rumah,” kata Ramli dalam wawancara tersebut.
Ia juga menyebut ada anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan. Sementara itu, warga dengan kondisi yang lebih parah disebut harus dibawa ke rumah sakit.
Keterangan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap keselamatan dan kesehatan anak-anak di tengah kondisi kabut asap. Namun, belum ada informasi terperinci mengenai jumlah sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh maupun jumlah siswa yang terdampak.
Pemadaman Kebakaran Dilakukan Menggunakan Helikopter
Terkait penanganan kebakaran, Ramli mengatakan dirinya mengetahui adanya helikopter yang digunakan untuk membantu memadamkan api melalui penyiraman air dari udara.
“Kalau yang ada kebakarannya baru datang yang namanya helikopternya, yang nolong nyiram yang kebakaran ini,” ujarnya.
Menurut penuturannya, helikopter tersebut digunakan ketika ditemukan kebakaran di kawasan hutan. Air kemudian diambil dari sumber air, seperti sungai atau perairan, untuk disiramkan ke lokasi kebakaran.
Ramli juga menjelaskan bahwa kebakaran terjadi di kawasan hutan yang jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut membuat kebakaran tidak selalu mudah diketahui masyarakat secara langsung, meskipun asapnya dapat mencapai wilayah tempat tinggal mereka.
“Ya, ini apa namanya, yang kebakarannya itu tentulah hutan, hutan yang tidak ada rumah,” kata Ramli.
Ia menyebut kebakaran masih berlangsung hingga wawancara dilakukan pada Minggu malam.
“Iya, ini kan masih berlanjut,” ujarnya.
Meski demikian, lokasi pasti titik api, luas lahan yang terbakar, serta instansi yang mengoperasikan helikopter tersebut belum dijelaskan secara terperinci dalam wawancara.
Warga Berharap Kabut Asap Segera Berakhir
Mengenai fasilitas kesehatan, Ramli menyampaikan bahwa layanan kesehatan di wilayahnya masih dapat digunakan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pasien yang tidak dapat ditangani di puskesmas perlu mendapatkan penanganan lanjutan di rumah sakit.
Namun, belum ada data mengenai jumlah pasien, kapasitas fasilitas kesehatan, maupun peningkatan kunjungan akibat gangguan pernapasan selama kabut asap berlangsung.
Keterangan Ramli menjadi gambaran mengenai keluhan warga yang menghadapi kabut asap dalam waktu berkepanjangan. Untuk memastikan kondisi terkini, diperlukan konfirmasi lebih lanjut dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dinas kesehatan, serta instansi terkait mengenai titik kebakaran, kualitas udara, dampak kesehatan, dan langkah penanganan yang telah dilakukan.
Hingga wawancara berlangsung pada 11 Oktober 2026, Ramli menyebut kabut asap di wilayahnya masih berlanjut. Warga berharap kebakaran dapat segera dikendalikan agar kualitas udara membaik dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. (Saheel untuk Indonesia)




