Indramayu, lognews.co.id – Konferensi dan Simposium Pendidikan Indonesia 2026 yang berlangsung selama dua hari di Ma'had Al Zaytun (MAZ) menghasilkan sebuah dokumen penting bertajuk "Deklarasi Pendidikan Indonesia Raya Abadi". Deklarasi tersebut disepakati dan ditandatangani bersama oleh 50 guru besar dan cendekiawan Indonesia pada momentum Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.
Mengusung tema "Transformasi Revolusional Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Raya Abadi", deklarasi ini menjadi bentuk komitmen kebangsaan para akademisi dalam mendorong transformasi pendidikan nasional yang lebih merata, berkarakter, berdaya saing global, serta mampu menjawab tantangan abad ke-22.
Dalam naskah rekomendasi yang dibacakan dan ditandatangani bersama, para guru besar menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi dan penggerak utama kemajuan bangsa sekaligus penentu kualitas peradaban negara. Mereka menilai Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan pendidikan, mulai dari kesenjangan mutu antarwilayah, belum meratanya akses pendidikan berkualitas, lemahnya pembangunan karakter dan kepemimpinan, rendahnya budaya riset dan inovasi, hingga belum optimalnya keterhubungan pendidikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masa depan bangsa.
Para peserta konferensi juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), revolusi digital, transformasi ekonomi global, serta perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Menurut mereka, tantangan tersebut menuntut lahirnya generasi Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, jiwa kebangsaan, penguasaan teknologi, kemampuan kepemimpinan, serta landasan spiritual dan kemanusiaan yang kokoh.
Atas dasar kesadaran tersebut, para guru besar dan cendekiawan Indonesia memandang perlu adanya transformasi revolusioner pendidikan yang terencana, berkelanjutan, dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu poin utama deklarasi adalah dukungan terhadap pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi yang tersebar merata di seluruh Indonesia. Program tersebut dipandang sebagai gerakan strategis nasional untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, membangun sumber daya manusia unggul, memperkuat persatuan bangsa, serta menyiapkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan peradaban dunia pada abad ke-22.
Deklarasi ini juga menegaskan pentingnya pengembangan pendidikan berbasis LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual) sebagai fondasi pembentukan generasi Indonesia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kuat dalam karakter, taat hukum, kreatif, produktif, serta memiliki spiritualitas dan tanggung jawab kemanusiaan global.
Selama konferensi, sejumlah guru besar dari berbagai perguruan tinggi menyampaikan pandangan yang memperkaya rumusan rekomendasi tersebut.
Pandangan Prof. Dr. Djagal Wiseso, MAgr.
Prof. Djagal Wiseso dari UGM menegaskan bahwa seorang guru besar harus memiliki keberanian intelektual yang sebanding dengan kapasitas keilmuannya. Menurutnya, gagasan besar pendidikan berasrama terintegrasi merupakan ide strategis yang layak mendapat dukungan dan penyempurnaan bersama.
Pandangan Prof. Dr. Sutrisna WIbawa, M.Pd.

Prof. Sutrisno dari UNY melihat suasana pendidikan di Ma'had Al Zaytun sebagai pengejawantahan nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, konsep Tut Wuri Handayani tampak hidup dalam proses pembinaan yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menumbuhkan kemandirian peserta didik.
Pandangan Prof. Dr. Drs. Nur Sahid, M.Hum.

Prof. Dr. Nur Sahid dari ISI Yogyakarta menegaskan pentingnya keseimbangan antara sains dan seni dalam pendidikan. Menurutnya, pendidikan unggulan harus mampu melahirkan generasi kreatif, berbudaya, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Pandangan Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A.

Prof. Pascalis Laksono dari UGM menilai gagasan pembangunan kawasan pendidikan terpadu yang diusung dalam konferensi merupakan visi besar yang berpotensi memberikan dampak luas bagi pemerataan pendidikan nasional apabila direalisasikan secara bertahap di berbagai daerah.
Pandangan Prof. Dr. Phil. H. Al Makin, S.Ag., M.A

Sementara itu, Prof. Dr. Al Makin, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyoroti pentingnya pendidikan kepemimpinan untuk menjawab tantangan bangsa di masa depan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang kritis, kreatif, mandiri, dan memiliki keberanian moral dalam membangun peradaban bangsa.
Pandangan senada disampaikan Prof. Triyono Bramantyo dari ISI Yogyakarta yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak pesimis terhadap gagasan-gagasan besar yang berpotensi membawa kemajuan. Menurutnya, ide besar harus dikritisi secara konstruktif dan disempurnakan bersama demi kemaslahatan bangsa.
Melalui deklarasi ini, para guru besar dan cendekiawan Indonesia mengajak pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh agama, tokoh budaya, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh elemen bangsa untuk menjadikan pembangunan manusia sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
Deklarasi tersebut menegaskan sebuah pesan kebangsaan yang kuat:
"Membangun manusia adalah membangun bangsa. Membangun pendidikan adalah membangun peradaban. Lima ratus Pusat Pendidikan Nasional Berasrama untuk Indonesia Raya Abadi."
Deklarasi yang ditandatangani oleh 42 guru besar dan cendekiawan Indonesia tersebut menjadi tonggak penting lahirnya gerakan intelektual kebangsaan yang berupaya menghadirkan transformasi pendidikan Indonesia secara menyeluruh, visioner, dan berkelanjutan menuju peradaban unggul abad ke-22, melalui pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi di seluruh Indonesia.
(Rochmad Kontributor lognews.co.id)



