lognews.co.id, JAKARTA – Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda menawarkan beasiswa kuliah S1 ke China kepada Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak yang viral usai polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (13/5/26)
Politikus Partai NasDem tersebut juga menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang terjadi dalam pelaksanaan lomba cerdas cermat yang menyeret nama Josepha hingga menjadi sorotan nasional.
“Saya minta maaf ya Josepha ya, kalau ada kesalahan dalam proses lomba cerdas cermat kemarin tingkat final di Pontianak, Kalimantan Barat,” kata Rifqinizamy dalam panggilan video yang diunggah melalui akun Instagram resminya, Selasa (12/5/2026).
Rifqinizamy mengaku bangga terhadap keberanian Josepha dalam menyuarakan ketidakadilan saat lomba berlangsung. Menurutnya, sikap tersebut membuat nama SMAN 1 Pontianak dikenal secara nasional.
Ia mengatakan pihak Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia juga akan memberikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara institusional terkait polemik tersebut.
“Nanti secara institusi MPR akan memberikan klarifikasi dan permohonan maaf,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rifqinizamy menawarkan beasiswa penuh kuliah di China kepada Josepha setelah lulus SMA. Ia menyebut pendidikan hingga peluang kerja setelah lulus akan difasilitasi melalui jaringan perusahaan multinasional.
“Kalau Josepha berkenan, Abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China. Begitu selesai SMA, Josepha akan Abang berikan beasiswa sekolah kuliah gratis di China,” katanya.
Ia menambahkan, setelah menyelesaikan pendidikan, Josepha disebut memiliki peluang mendapatkan pekerjaan di sejumlah perusahaan multinasional.
“Dan nanti akan ada pemberian pekerjaan langsung dari berbagai perusahaan multinasional untuk Josepha kalau sudah lulus dari China,” tambahnya.
Sebelumnya, nama Josepha Alexandra menjadi perhatian publik setelah video polemik penilaian dalam LCC Empat Pilar MPR RI viral di media sosial. Dalam video tersebut, jawaban yang disampaikan Josepha dianggap benar oleh publik, namun dipersoalkan oleh juri karena faktor artikulasi.
Polemik tersebut memicu kritik luas terhadap sistem penilaian lomba dan mendorong sejumlah pihak meminta evaluasi pelaksanaan kegiatan edukasi kebangsaan tersebut. (Amri-untuk Indonesia)



