lognews.co.id, Jakarta – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia memutuskan membatalkan rencana aksi demonstrasi Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Gedung DPR RI pada Jumat (1/5/2026). Massa buruh kini akan memusatkan kegiatan di kawasan Monumen Nasional.
Keputusan tersebut disampaikan Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, setelah adanya kesediaan Presiden Prabowo Subianto untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan perwakilan buruh.
Presiden Dinilai Siap Mendengar Aspirasi Buruh
Menurut Said Iqbal, perubahan lokasi aksi dilakukan karena buruh ingin menyampaikan langsung berbagai tuntutan ketenagakerjaan kepada kepala negara dalam momentum May Day tahun ini.
“Ada alasan mengapa KSPI memindahkan rencana aksi May Day yang semula di depan Gedung DPR RI menjadi ke Monas Jakarta, yaitu karena Presiden Prabowo mengiyakan kami untuk bertemu dan berdiskusi,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Ia menambahkan, terdapat sedikitnya 11 isu utama yang menjadi perhatian kalangan pekerja dan diharapkan mendapat penegasan langsung dari Presiden.
Soroti 11 Isu Ketenagakerjaan
Meski tidak merinci seluruh poin tuntutan, Said Iqbal menegaskan beberapa isu dianggap sangat mendesak untuk dijawab pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja, perlindungan tenaga kerja, dan kebijakan ketenagakerjaan nasional.
“Dari 11 isu dan harapan buruh, ada beberapa yang sangat penting dan harus dijawab serta ditegaskan oleh Bapak Presiden,” katanya.
50.000 Buruh Siap Hadir di Monas
KSPI memperkirakan aksi terpusat di Monas akan diikuti ratusan ribu peserta dari berbagai organisasi buruh. Secara khusus, KSPI menyatakan akan mengerahkan sekitar 50.000 buruh dari sejumlah wilayah industri.
Peserta berasal dari kawasan Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Raya, hingga sebagian wilayah Cirebon Raya.
Momentum Dialog Pemerintah dan Buruh
Pemindahan aksi ke Monas dipandang sebagai sinyal terbukanya ruang dialog antara pemerintah dan kalangan pekerja. May Day tahun ini diperkirakan menjadi salah satu peringatan Hari Buruh terbesar sejak pemerintahan baru berjalan.
Buruh berharap pertemuan dengan Presiden dapat menghasilkan langkah konkret terkait perbaikan iklim kerja, penguatan daya beli pekerja, serta perlindungan hak-hak buruh di tengah tantangan ekonomi nasional. (Amri-untuk Indonesia)



