Thursday, 30 April 2026

Kepala BRIN Nilai Penataan Prodi Tak Relevan Langkah Tepat Selamatkan Pendidikan Tinggi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menilai rencana penataan hingga penutupan program studi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri merupakan langkah tepat dalam transformasi pendidikan tinggi nasional. Menurutnya, perguruan tinggi harus bergerak cepat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. (29/4/26).

Arif menyebut dunia kerja saat ini berubah sangat cepat, terutama dipicu perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kebutuhan kompetensi baru. Karena itu, kampus tidak bisa lagi bertahan dengan pola lama yang membuat lulusan tertinggal dari kebutuhan pasar.

Skill Cepat Usang

Ia mengutip tren global yang menunjukkan kebutuhan keterampilan tenaga kerja dapat berubah drastis dalam lima tahun. Artinya, mahasiswa yang baru masuk kuliah saat ini berpotensi lulus dengan sebagian kompetensi yang sudah tidak lagi relevan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bagi perguruan tinggi untuk segera menyesuaikan kurikulum dan membuka program studi yang memiliki prospek masa depan.

Mikrokredensial Jadi Solusi

Arif juga menyoroti pentingnya sistem pembelajaran mikrokredensial, yakni pelatihan singkat berbasis kompetensi yang langsung menjawab kebutuhan industri. Sertifikasi seperti ini dinilai memberi nilai tambah kuat bagi lulusan.

Ia menegaskan banyak perusahaan kini lebih membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan spesifik dan terukur, bukan hanya ijazah formal.

Kampus Harus Cetak Pembelajar

Selain kompetensi teknis, perguruan tinggi diminta menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Dalam era perubahan cepat, kemampuan beradaptasi dan belajar ulang dinilai menjadi modal utama.

Arif menambahkan reformasi pendidikan tinggi memang tidak mudah karena menyangkut kurikulum dan sistem besar. Namun jika tidak dilakukan sekarang, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Fokus Masa Depan

Menurutnya, transformasi kampus bukan semata menutup prodi lama, melainkan memastikan pendidikan tinggi selaras dengan tren masa depan, kebutuhan industri, dan pembangunan nasional.

(Amri-untuk Indonesia)