lognews.co.id – Penderita Diabetes menghadapi risiko serius terhadap kesehatan ginjal. Sekitar 30–40 persen kasus berpotensi berkembang menjadi komplikasi ginjal tanpa gejala yang jelas. Kondisi ini membuat deteksi dini kerap terlambat. (13/4/26)
Laporan yang dikutip dari media Vietnam dan sumber kesehatan global menyebutkan, pola makan menjadi faktor krusial dalam memperlambat atau justru mempercepat kerusakan ginjal. Kesalahan dalam mengatur asupan nutrisi dapat meningkatkan beban kerja ginjal secara signifikan.
Berikut empat kesalahan pola makan yang perlu dihindari:
1. Konsumsi Protein Berlebihan
Protein memang penting, tetapi konsumsi berlebih—terutama dari daging merah dan olahan—memicu produksi limbah metabolik seperti urea dan amonia. Ginjal dipaksa bekerja lebih keras untuk menyaring zat tersebut, meningkatkan tekanan pada glomerulus dan mempercepat kerusakan jangka panjang.
Solusi: batasi asupan dan prioritaskan protein sehat seperti ikan, kacang-kacangan, serta sumber nabati.
2. Asupan Garam Tinggi
Garam yang kaya natrium menyebabkan retensi cairan, meningkatkan volume darah dan tekanan darah. Dampaknya, tekanan pada ginjal meningkat dan memperbesar risiko kerusakan.
3. Kelebihan Fosfor dari Makanan Olahan
Fosfor tambahan dalam makanan olahan diserap hampir sepenuhnya oleh tubuh. Kadar tinggi dalam darah dapat merusak jaringan ginjal dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
4. Kekurangan Serat
Serat berperan penting menjaga keseimbangan mikrobioma usus. Kekurangan serat memicu produksi racun metabolik yang akhirnya disaring oleh ginjal, meningkatkan beban kerja dan risiko peradangan.
Fokus Pencegahan
Ahli menekankan bahwa pengelolaan pola makan yang tepat tidak hanya membantu mengontrol gula darah, tetapi juga menjadi strategi utama dalam menjaga fungsi ginjal. Pendekatan ini mencakup keseimbangan nutrisi, bukan sekadar mengurangi gula.
Dengan meningkatnya kasus komplikasi ginjal pada penderita diabetes, edukasi pola makan menjadi kunci dalam menekan risiko penyakit kronis yang lebih serius. (Amri-untuk Indonesia)



