Monday, 20 April 2026

Prof. Al Makin: Kegelisahan Syaykh Ternyata Kunci Kemajuan Al-Zaytun

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id - Kunjungan Prof. Dr. Phil. Al Makin ke Ma’had Al-Zaytun tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang refleksi mendalam mengenai arah pendidikan, kepemimpinan, serta budaya berpikir di Indonesia. Dalam perbincangan bersama LognewsTV, ia menguraikan pengamatannya secara komprehensif, mulai dari aspek lingkungan hingga filsafat pendidikan.

WhatsApp Image 2026 04 13 at 11.58.37

Lanskap Ekologis sebagai Fondasi Nilai

Sejak awal kedatangan, Prof. Al Makin menangkap pesan kuat dari lingkungan fisik Al-Zaytun. Kehadiran pohon-pohon besar yang mendominasi kawasan bukan hanya elemen visual, melainkan representasi nilai yang hidup.

Ia menilai bahwa keberadaan vegetasi tersebut menunjukkan praktik nyata cinta terhadap alam. Dalam pandangannya, penanaman dan pemeliharaan pohon bukan sekadar simbol, tetapi bentuk amal konkret yang mencerminkan kesadaran ekologis. Hal ini, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi masyarakat luas tentang bagaimana relasi manusia dengan lingkungan seharusnya dibangun.

“Sangat luar biasa, saya disambut dengan pohon-pohon besar, itu tandanya sudah kelihatan bahwa ini cinta alam. Di sini banyak pohon dan merupakan amal nyata dan kita harus belajar untuk memelihara alam di Al-Zaytun,” ujarnya.

Manajemen, Kepemimpinan, dan Infrastruktur Sistemik

Lebih jauh, Prof. Al Makin menekankan bahwa apa yang terlihat di Al-Zaytun tidak mungkin terwujud tanpa fondasi manajemen yang kuat. Ia melihat adanya integrasi antara kepemimpinan, sistem, dan infrastruktur yang berjalan secara terstruktur.

Menurutnya, pengelolaan lembaga dalam skala besar membutuhkan kapasitas kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner. Sistem yang baik menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan institusi, dan hal tersebut tampak telah terbangun di Al-Zaytun.

“Iya ini kan minimal butuh manajemen, butuh kepemimpinan, butuh manajemen yang baik, butuh sistem dan infrastruktur yang baik,” jelasnya.

Kemandirian Ekonomi sebagai Praktik Pendidikan

Salah satu temuan yang paling menarik bagi Prof. Al Makin adalah praktik kemandirian yang dijalankan oleh para pelajar. Ia menyaksikan langsung bagaimana kapal dapat dibangun dari kayu yang berasal dari hutan sendiri, serta bagaimana kebutuhan pangan seperti padi diproduksi secara mandiri.

Fenomena ini ia tafsirkan sebagai bentuk pendidikan berbasis praktik yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kemandirian tersebut tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga menanamkan mentalitas produksi dan keberdayaan. Dalam konteks yang lebih luas, ia melihat ini sebagai model alternatif pendidikan yang mengintegrasikan teori dan praktik secara simultan.

“Yaa saya sempat melihat kapal yang dibuat oleh pelajar Ma’had Al-Zaytun, dari bahan kayu yang kayunya dari hutan sendiri dan direncanakan oleh diri sendiri, padinya dari diri sendiri. Ini kan nilai ekonomi atau swadaya yang tinggi, kita harus belajar bagaimana seperti ini,” katanya.

Stabilitas dan Konsistensi Sistem Internal

Menanggapi berbagai isu yang berkembang di luar, Prof. Al Makin menyatakan bahwa dirinya tidak melihat adanya perubahan signifikan dalam sistem yang berjalan di Al-Zaytun. Ia menilai bahwa sistem yang ada telah terbentuk dan berjalan secara konsisten.

Hal ini menunjukkan bahwa institusi tersebut memiliki daya tahan internal yang cukup kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh dinamika eksternal.

“Saya tidak melihat ada perubahan di Ma’had Al-Zaytun,” tegasnya.

Syaykh dan Kegelisahan sebagai Sumber Inovasi

Dalam perspektif filosofis, Prof. Al Makin menyoroti karakter kepemimpinan Syaykh sebagai sosok yang dilandasi kegelisahan intelektual. Ia menggambarkan Syaykh sebagai individu yang tidak menerima realitas secara pasif, melainkan terus mempertanyakan dan mencari alternatif.

Kegelisahan tersebut, menurutnya, merupakan modal utama dalam melahirkan inovasi. Seluruh sistem yang ada di Al-Zaytun dipandang sebagai hasil dari proses panjang pertanyaan-pertanyaan kritis. Dalam tradisi filsafat, sikap ini menjadi fondasi bagi lahirnya perubahan dan kemajuan.

“Beliau orang gelisah, beliau orang yang tidak menerima keadaan, beliau selalu bertanya sepertinya ini tidak beres saya harus menciptakan sesuatu. Ini merupakan modal individu atau kelompok untuk maju,” ungkapnya.

Kritik terhadap Budaya Anti-Intelektual

Dalam refleksinya terhadap kondisi nasional, Prof. Al Makin mengkritik kecenderungan sebagian pihak yang mengabaikan pentingnya intelektualitas. Ia menyoroti adanya pandangan yang lebih mengutamakan kepatuhan dibandingkan kemampuan berpikir.

Menurutnya, fenomena anti-intelektual justru berpotensi merusak tatanan hukum dan kehidupan berbangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia sejak awal dibangun di atas fondasi pemikiran, sehingga melemahnya tradisi berpikir menjadi ancaman serius bagi masa depan.

“Orang anti intelektual, orang yang anti pendidikan adalah orang yang paling banyak mengacak-ngacak hukum. Indonesia ini diciptakan dari pondasi yang berpikir tetapi tokoh-tokoh di Indonesia tidak bisa berpikir,” kritiknya.

Dialektika dan Ruang Mendengar

Prof. Al Makin juga menyoroti praktik komunikasi yang terjadi di Al-Zaytun, khususnya dalam interaksi antara pimpinan dan para akademisi. Ia mengapresiasi adanya ruang dialog yang memungkinkan setiap pihak untuk berbicara sekaligus didengarkan.

Dalam pandangannya, hal ini mencerminkan praktik dialektika yang sehat. Kepemimpinan tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar dan bertanya. Relasi semacam ini menciptakan mutualisme yang menjadi dasar komunikasi yang efektif dan konstruktif.

“Di sini yang saya tahu, para profesor diberi ruang untuk memberikan pandangan, dan profesor diberikan waktu sebanyak-banyaknya dan kita mendengarkannya. Jadi kita itu tidak hanya belajar berbicara dan mendengar, syaykh mendengar dan syaykh bertanya. Ini namanya mutualisme, jadi kita diberi hak berbicara dan kita diberi hak untuk didengar,” jelasnya.

Model Pendidikan Berasrama dalam Perspektif Filsafat

Dalam membahas sistem pendidikan berasrama, Prof. Al Makin mengaitkannya dengan sejarah pendidikan klasik. Ia merujuk pada model Akademia yang didirikan Plato, di mana murid-murid dikumpulkan dalam satu ruang untuk berdialog.

Di sisi lain, ia juga menyinggung metode Aristoteles yang mengajar sambil berjalan, yang mencerminkan kebebasan dalam proses belajar. Dari kedua model tersebut, ia menekankan bahwa esensi pendidikan adalah kemerdekaan dalam berpikir, baik dalam ruang terstruktur maupun dalam kebebasan eksploratif.

“Saya akan sampaikan, sejarah akademia pendidikan tinggi kita kembali ke dahulu ketika Plato mendirikan pendidikan namanya akademia, semua murid-murid Plato dikumpulkan semuanya diberikan ruang untuk bertanya dan mendengarkan. Berbeda dengan muridnya Aristoteles, mengajak berkeliling di luar ruangan sambil bertanya. Ini merupakan dua model pendidikan,” paparnya.

“Yang perlu dipentingkan adalah merdeka,” tambahnya.

Integrasi Filsafat dan L-STEAMS

Menanggapi pendekatan L-STEAMS, Prof. Al Makin melihat adanya potensi integrasi dengan filsafat. Ia menilai bahwa penggabungan berbagai disiplin ilmu merupakan langkah penting dalam membangun pemahaman yang utuh.

Ia mengaitkan hal ini dengan praktik tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Sunan Kalijaga, yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Dalam konteks ini, filsafat berperan sebagai penghubung yang memungkinkan dialog antar disiplin.

“Itu sudah diteliti oleh peneliti Amerika, yaitu mengumpulkan semua perbedaan, dan kita tahu bahwa Soekarno melakukan itu dan begitupun Sunan Kalijaga,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan gagasan Al Zaytun dengan semangat "menggabungkan seluruh kekuatan" atau Samenbundeling van alle revolutionaire krachten, yaitu kemampuan bangsa Indonesia untuk merangkul berbagai unsur: nasionalisme, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, integritas dan kejujuran menjadi fondasi utama yang harus terus dibangun.

Kepemimpinan sebagai Ruang Pengabdian

Di bagian akhir, Prof. Al Makin menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah posisi yang nyaman. Ia menyebut bahwa menjadi pemimpin berarti siap menghadapi penderitaan, kritik, serta tuntutan untuk terus mendengar.

Menurutnya, pemimpin tidak boleh alergi terhadap suara rakyat dan tidak boleh merasa selalu benar. Kepemimpinan yang baik justru lahir dari kemampuan untuk membuka diri terhadap berbagai pandangan.

“Memimpin itu menderita. Pemimpin harus mau dikritik, harus mendengarkan. Dari rakyat itu tidak boleh dibantah, harus didengar. Jangan mengancam, dan jangan sering-sering curhat, belum tentu visi pemimpin itu benar,” pungkasnya.

Kunjungan ini ditutup dengan pernyataan kesediaan Prof. Al Makin untuk kembali hadir dan melanjutkan dialog. Hal ini menjadi sinyal bahwa ruang-ruang intelektual seperti di Al-Zaytun masih memiliki peran penting dalam membangun tradisi berpikir yang sehat di Indonesia. (Saheel untuk Indonesia)