Friday, 10 April 2026

Prabowo Pekikkan “Salam Merdeka”, Budaya Salam Yang Juga Hidup di Al-Zaytun

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id – Salam merdeka buat Prabowo, sebagai prajurit TNI sudah sangat biasa di dengar, tapi bila Salam Merdeka menjadi budaya di dalam lingkungan pendidikan yang syarat dengan makna akan menjadi penguatan nasionalisme dan cinta tanah air.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memekikkan “Salam Merdeka” di akhir acara Peresmian Pabrik Perakitan Kendaraan Komersial Berbasis Listrik, Kamis (9/4/2026). Seruan tersebut menjadi penutup yang mencuri perhatian dalam rangkaian acara resmi yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Momentum ini dinilai bukan sekadar seremoni, tetapi mengandung pesan kebangsaan yang kuat. Salam merdeka buat Prabowo, sebagai prajurit TNI sudah sangat biasa di dengar, tapi bila Salam Merdeka menjadi budaya di dalam lingkungan pendidikan yang syarat dengan makna akan menjadi penguatan nasionalisme dan cinta tanah air.

Momentum tersebut juga menarik karena memiliki irisan dengan praktik yang selama ini digunakan di lingkungan Mahad Al-Zaytun.

Bagian dari Rangkaian Acara Resmi

Berdasarkan transkrip jalannya acara, kegiatan dimulai dengan kedatangan Presiden, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, doa bersama, hingga laporan dari pihak industri terkait pengembangan kendaraan listrik nasional.

Dalam pemaparannya, pihak perusahaan menyampaikan kapasitas produksi kendaraan, termasuk bus listrik dengan berbagai spesifikasi, mulai dari kapasitas penumpang hingga bobot baterai.

Acara tersebut juga menekankan pentingnya:

  • Kemandirian industri nasional
  • Transisi menuju energi bersih
  • Penguatan ekonomi melalui inovasi teknologi

Seluruh rangkaian berlangsung formal dan penuh nuansa kebangsaan hingga ditutup dengan pekikan “Salam Merdeka” oleh Presiden.

Makna Historis “Salam Merdeka”

“Salam Merdeka” bukan sekadar ungkapan biasa. Salam ini merupakan salam nasional yang ditetapkan oleh Presiden pertama RI, Soekarno, melalui maklumat pemerintah pada 31 Agustus 1945.

Makna dari pekikan ini mencerminkan:

  • Semangat perjuangan bangsa
  • Jiwa yang merdeka
  • Persatuan nasional

Secara simbolik, salam ini dilakukan dengan mengangkat tangan setinggi bahu, dengan telapak tangan terbuka menghadap ke depan.

Tujuannya adalah membangkitkan semangat kebangsaan serta memperkuat solidaritas nasional.

Tradisi yang Konsisten di Al-Zaytun

Menariknya, “Salam Merdeka” juga menjadi bagian dari tradisi yang konsisten digunakan di lingkungan Mahad Al-Zaytun.

Dalam berbagai kegiatan, salam ini digunakan sebagai bentuk peneguhan nilai nasionalisme, kedisiplinan, dan semangat persatuan.

Penggunaan salam tersebut menunjukkan bagaimana simbol kebangsaan tidak hanya hidup dalam ruang formal kenegaraan, tetapi juga diadopsi dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial.

Simbol Nasionalisme di Era Modern

Pekikan “Salam Merdeka” oleh Presiden Prabowo di tengah agenda pembangunan industri dinilai memiliki pesan simbolik yang kuat.

Di tengah tantangan global, transisi energi, serta dinamika ekonomi, seruan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional tetap berakar pada semangat kemerdekaan.

Seruan itu sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi terus dihidupkan dalam praktik kepemimpinan dan pembangunan bangsa.

(Saheel untuk Indonesia)