lognews.co.id, Jakarta – Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Irjen Andi Rian Djajadi, mengumumkan rencana evaluasi pendidikan dasar siswa Polri yang dianggap terlalu militeristik. Evaluasi ini mencakup sejumlah praktik lama dalam pembentukan calon Bhayangkara, termasuk kebiasaan menenteng senjata, membawa helm, dan ransel berisi batu bata. (03/4/26)
“Berencana melakukan kajian dan evaluasi terhadap pendidikan dasar Bhayangkara. Mungkin senior-senior kami merasakan pada saat kita dulu basis namanya, kita masih nenteng senjata, ransel, pakai helm. Ini sedang kami kaji, itu kita hilangkan,” ujar Andi Rian saat rapat dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4).
Revisi Praktik Pendidikan Dasar
Langkah evaluasi bertujuan menyesuaikan metode pendidikan kepolisian dengan standar modern dan efektif dalam membentuk anggota Polri. Andi Rian menyebut praktik-praktik militeristik lama akan diganti dengan pendekatan yang lebih relevan dan humanis.
Polri juga akan mengacu pada praktik pendidikan kepolisian di luar negeri untuk menemukan model pendidikan dasar yang lebih tepat. Tujuannya, menghasilkan calon anggota yang kompeten, disiplin, namun tidak terbebani tradisi militeristik yang berlebihan.
Transformasi Budaya Polri
Penghapusan budaya militeristik diharapkan mendorong perubahan sikap dan kemampuan anggota Polri, sehingga lebih adaptif terhadap tuntutan masyarakat modern. Andi Rian menegaskan, reformasi ini menjadi bagian dari upaya Polri menyesuaikan diri dengan paradigma profesionalitas, integritas, dan pelayanan publik.
Evaluasi pendidikan dasar Polri ini juga menandai langkah strategis menuju modernisasi lembaga, termasuk peningkatan kualitas pelatihan, metode pembelajaran berbasis keterampilan, serta pendekatan psikologis yang lebih sesuai bagi calon Bhayangkara.
Dengan kebijakan ini, Polri berharap calon anggotanya mampu menghadapi tantangan tugas kepolisian kontemporer tanpa dibebani metode pendidikan yang bersifat militansi ekstrem.
(Amri-untuk Indonesia)



