lognews.co.id, Sukoharjo – Pemerintah Indonesia mencari pemasok baru bahan baku plastik jenis nafta dari India, Afrika, dan Amerika Serikat setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat perang Israel–Amerika dengan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz (2/4/26).
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kebutuhan nafta dalam negeri masih sangat bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah. Kondisi geopolitik yang memanas membuat distribusi tersendat dan memaksa pemerintah mencari alternatif pemasok.
Budi menegaskan proses pengalihan sumber pasokan sedang berjalan, namun membutuhkan waktu karena menyangkut kesiapan negara pemasok serta jalur logistik global. Ia menyebut gangguan pasokan plastik tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan menjadi isu global yang turut melanda Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan.
Di sisi lain, situasi industri juga tertekan kenaikan harga bahan baku. Sekjen Inaplas Fajar Budiyono menyebut harga plastik yang sebelumnya Rp15.000–17.000 per kilogram kini melonjak hingga sekitar Rp30.000 per kilogram akibat ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz.
Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan dan harga pangan tetap stabil. Budi menyebut distribusi berjalan lancar dan sebagian besar komoditas pangan tidak bergantung pada impor sehingga tidak terdampak langsung oleh konflik global.
(Amry-untuk Indonesia)



