Saturday, 04 April 2026

Saat Hemat Energi Jadi Isu Nasional, Gagasan Pendidikan Berasrama Ma'had Al-Zaytun menjadi Kunci Jawaban

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id –  Gagasan besar Syaykh Al-Zaytun mengenai pembangunan 500 titik pendidikan berasrama di berbagai wilayah Indonesia dinilai semakin relevan di tengah kebutuhan akan sistem pendidikan yang lebih aman, efisien, produktif, dan berorientasi pada kemandirian bangsa. Model pendidikan berasrama dipandang bukan hanya mampu memperkuat pembinaan karakter dan disiplin peserta didik, tetapi juga dapat menjadi jawaban atas tantangan efisiensi energi, keselamatan mobilitas pelajar, hingga ketahanan pangan nasional.

Relevansi gagasan tersebut mengemuka Sebelum Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengimbau para pelajar untuk mulai membiasakan diri berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, khususnya bagi siswa yang tinggal dekat dari lingkungan sekolah. Imbauan itu disampaikan sebagai bagian dari dukungan dunia pendidikan terhadap agenda efisiensi energi nasional sekaligus dorongan untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan ramah lingkungan di kalangan pelajar.

Naik Sepeda Dinilai Sehat dan Hemat Energi
Abdul Mu’ti menilai kebiasaan bersepeda yang sempat menguat saat pandemi Covid-19 layak diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi misalnya kami himbau kalau yang rumahnya dekat dari sekolah dan kalau memang kira-kira aman dan nyaman, saya kira tidak ada salahnya jalan kaki atau kembali kepada kebiasaan bersepeda selama masa Covid. Kenapa kebiasaan itu tidak kita juga lanjutkan lagi? Itu kan sehat dan juga bisa hemat energi dan bersih lingkungan,” kata Abdul Mu’ti di Jakarta.

Selain itu, ia juga mendorong sekolah untuk menanamkan budaya hemat energi dan kesadaran lingkungan, termasuk melalui pembiasaan pengelolaan sampah dan pengurangan ketergantungan pada kendaraan bermotor.

Menurutnya, keberhasilan kebiasaan tersebut tetap membutuhkan dukungan sistemik, terutama dari sisi keamanan jalan, akses transportasi umum, dan kebijakan daerah yang berpihak pada keselamatan pelajar.

Al-Zaytun: Hemat Energi Harus Ditopang Sistem Pendidikan
Di balik imbauan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah kebiasaan bersepeda ke sekolah dapat diterapkan secara aman dan merata di semua daerah.

Sebab, tidak semua wilayah memiliki jalur sepeda yang layak, lingkungan jalan yang aman, maupun jarak tempuh yang ramah bagi pelajar. Dalam kondisi tertentu, ajakan bersepeda justru bisa menghadirkan risiko, mulai dari kelelahan hingga potensi kecelakaan lalu lintas.

Dalam konteks itulah, Ma’had Al-Zaytun memandang bahwa semangat hemat energi dalam pendidikan perlu ditopang oleh desain pendidikan yang lebih sistemik, bukan hanya imbauan perilaku individual.

Kehidupan Berasrama Dinilai Lebih Aman dan Efisien
Model pendidikan berasrama seperti yang diterapkan di Ma’had Al-Zaytun dinilai menghadirkan solusi yang lebih aman, efisien, dan terukur. Dalam sistem ini, peserta didik tidak lagi bergantung pada mobilitas harian yang panjang dan berisiko, karena tempat tinggal, ruang belajar, tempat ibadah, dan ruang pembinaan berada dalam satu kawasan pendidikan yang terintegrasi.

Dengan pola seperti itu, kebutuhan perjalanan dapat ditekan sejak awal. Artinya, penghematan energi tidak hanya bergantung pada pilihan moda transportasi, tetapi juga pada bagaimana sistem pendidikan dirancang agar lebih dekat, tertib, dan efisien.

Di Al-Zaytun, kehidupan berasrama juga menjadi bagian dari metode pendidikan. Peserta didik tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga dibina dalam ritme hidup yang disiplin, tertata, sederhana, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Bangun 500 Titik Pendidikan Berasrama
Dari sudut pandang itulah, solusi yang lebih besar kemudian mengerucut pada gagasan pembangunan 500 titik pendidikan berasrama di berbagai wilayah Indonesia.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Syaykh Al-Zaytun, bahwa pendidikan masa depan Indonesia harus dibangun tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga tertata secara sosial, ekologis, produktif, dan berorientasi pada kemandirian bangsa.

Jika pemerintah ingin sungguh-sungguh mendorong efisiensi energi di sektor pendidikan, maka membangun pusat-pusat pendidikan berasrama yang tersentral dapat menjadi langkah yang lebih substantif. Dengan sistem seperti itu, peserta didik tidak lagi dibebani mobilitas harian yang panjang, penggunaan kendaraan bermotor dapat ditekan, dan keselamatan pelajar lebih terjaga.

Tak Hanya Hemat Energi, tetapi Juga Menjawab Pangan
Gagasan pendidikan berasrama juga dinilai relevan untuk menjawab tantangan bangsa yang lebih luas, termasuk ketahanan dan kemandirian pangan nasional.

Hal ini pernah ditekankan oleh Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Rektor Institut Pertanian INTAN, Prof. Dr. Ir. Retno Indrati, M.Sc, yang menilai persoalan pangan nasional harus diselesaikan melalui pendidikan berkelanjutan.

Dalam pandangannya, generasi muda perlu dibekali sejak dini dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman nyata dalam mengelola sumber daya pangan. Karena itu, model pendidikan berasrama dinilai relevan, sebab memungkinkan peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga terhubung langsung dengan praktik, produksi, dan pembiasaan hidup produktif.

Dari Hemat Energi ke Desain Peradaban
Dengan demikian, pembicaraan mengenai pelajar bersepeda ke sekolah seharusnya tidak berhenti sebagai imbauan teknis semata. Isu tersebut justru dapat dibaca sebagai pintu masuk menuju pembahasan yang lebih besar tentang arah pendidikan Indonesia ke depan.

Di tengah tantangan energi, keselamatan transportasi, pembentukan karakter, hingga ketahanan pangan, pendidikan berasrama menawarkan jawaban yang lebih komprehensif. Ia tidak hanya menyelesaikan persoalan jarak dan transportasi, tetapi juga menyatukan pembelajaran, pembinaan, efisiensi, produktivitas, dan pembentukan budaya hidup yang lebih tertib.

Dalam kerangka itu, gagasan 500 titik pendidikan berasrama dapat dipandang sebagai salah satu desain strategis untuk menyiapkan generasi Indonesia yang lebih mandiri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

(Saheel untuk Indonesia)