lognews.co.id – Di tengah dunia yang sedang sibuk membicarakan geopolitik, krisis global, dan ancaman pangan, suasana berbeda justru terlihat di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu. Di hamparan sawah yang menguning, para pelajar Ma’had Al-Zaytun tampak sibuk memanen padi premium Khoshihikari, varietas beras unggulan yang selama ini dikenal memiliki kualitas tinggi.
Kegiatan panen ini bukan sekadar praktik lapangan biasa. Bagi Al-Zaytun, panen padi merupakan bagian dari proses pendidikan yang lebih besar, yakni membentuk generasi muda yang memahami pertanian dari sisi ilmu, teknologi, karakter, hingga kemandirian pangan bangsa.
Panen kali ini melibatkan para pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler pertanian, didampingi para penanggung jawab pembelajaran lapangan.
Pelajar Terlibat Langsung dari Hulu hingga Hilir
Salah satu pelajar yang terlibat dalam kegiatan ini, Fira Novianti, mengaku bangga dapat kembali mengikuti panen padi Khoshihikari untuk kedua kalinya.

Menurutnya, keterlibatan dalam pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi juga menjadi bekal keterampilan hidup di masa depan.
“Saya sangat bangga. Ini menjadi wadah bagi kami untuk mengeksplorasi kemampuan di bidang pertanian, apalagi di tengah ancaman krisis pangan saat ini. Bagi saya ini salah satu langkah menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya di sela kegiatan panen.
Fira menjelaskan, pada musim panen kali ini dirinya bertugas melakukan pendataan proses panen, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai instruksi dan target yang telah ditetapkan.
Tahapan kerja yang dilakukan meliputi:
-
pemanenan,
-
penggerabakan,
-
penampian,
-
penimbangan,
-
hingga proses penjemuran gabah.
Setelah proses penampian dan penimbangan, gabah dibawa ke gedung pengeringan untuk dijemur hingga mencapai kadar air ideal.
“Setelah ditimbang, hasilnya masih berupa GKP atau gabah kering panen, karena kadar airnya masih tinggi. Setelah itu dilakukan pengecekan kadar air dan dijemur sampai mencapai kadar air 14 persen, lalu dikarungkan kembali menjadi GKG atau gabah kering giling,” jelasnya.
Lahan Praktikum 2,5 Hektare, Satu Pelajar Kelola 400 Meter Persegi
Dari hasil pendataan lapangan, Fira menyebutkan bahwa lahan praktikum yang digunakan untuk kegiatan pertanian di Al-Zaytun mencapai 2,5 hektare.
Sementara itu, untuk pelajar kelas 11, masing-masing mendapat tanggung jawab mengelola lahan seluas 400 meter persegi atau berukuran 20 x 20 meter.
Ia juga menjelaskan bahwa musim tanam kali ini dimulai sejak 1 Desember 2025, dan panen dilakukan pada awal April 2026, atau sekitar 120 hari masa tanam.
Pada musim panen sebelumnya, hasil panen Hoshihikari disebut mencapai sekitar 7 ton, sementara untuk panen kali ini hasil akhir masih dalam proses penghitungan.
Dari Observasi Hingga Panen, Pelajar Diajarkan Pertanian sebagai Solusi Masa Depan
Pelajar lainnya, Aufa Iyad Faiz, menjelaskan bahwa pada hari panen dirinya bertugas langsung memanen padi menggunakan arit sebelum hasil panen dibawa ke proses berikutnya.
“Hari ini saya diberi instruksi untuk memanen padi menggunakan arit. Setelah itu hasil panen dibawa ke mesin gerabak, lalu ditampi untuk membersihkan sisa daun agar didapat bulir padinya saja,” ujarnya.
Sebagai pelajar kelas 10, Aufa mengaku proses pembelajaran pertanian yang ia jalani masih berfokus pada observasi tanaman padi, namun ia merasakan bahwa apa yang dipelajari di kelas sangat berhubungan langsung dengan praktik di lapangan.
Ia juga menyampaikan harapannya agar hasil panen ini tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan Al-Zaytun, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih luas.
“Harapan saya hasil panen ini dapat berguna bagi masyarakat sekitar di Indramayu, dan nantinya berkembang ke skala yang lebih luas,” katanya.
Pendidikan Pertanian di Al-Zaytun Dibangun Lewat Proses
Penanggung jawab ekstrakurikuler pertanian, Ustadz Haryanto Mardhoni, S.Mn., M.P. menegaskan bahwa pendidikan pertanian di Al-Zaytun dibangun sebagai proses pembentukan karakter, pola pikir, dan keterampilan, bukan sekadar kegiatan budidaya.
“Dalam pendidikan itu kita mengenal proses. Tidak ada sesuatu yang langsung jadi. Hari ini kita melihat bagaimana para pelajar berproses dari yang tidak mengerti pertanian, sampai menjadi mengerti pertanian,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan pertanian di Al-Zaytun tidak hanya berhenti pada aspek budidaya, tetapi juga diarahkan agar para pelajar memahami seluruh rantai produksi, dari hulu sampai hilir.

Menurutnya, minat generasi muda terhadap pertanian saat ini memang masih rendah. Karena itu, pendekatan pendidikan harus dibangun dengan cara yang menyenangkan, terarah, dan relevan dengan masa depan mereka.
“Ketika pelajar menyukai sesuatu, punya target yang jelas, dan ada reward, maka mereka akan enjoy. Dari situ guru bisa membimbing mereka step by step,” ujarnya.
Masuk Tahun Ketiga, Panen Padi Sudah Capai Empat Kali
Program ekstrakurikuler pertanian di MA Ma’had Al-Zaytun kini telah memasuki tahun ketiga, dan untuk budidaya padi, panen kali ini menjadi panen keempat.
Menurut Haryanto, ada banyak perkembangan dari musim ke musim, baik dari sisi manajemen pelajar, metode panen, hingga penggunaan alat.
Pada tahap awal, satu petak lahan seluas 400 meter persegi ditangani oleh empat pelajar, namun kini menjadi dua pelajar per petak, menandakan adanya peningkatan kemampuan dan efisiensi kerja.
Metode panen pun terus berkembang. Jika pada musim-musim sebelumnya masih menggunakan metode sederhana, kini pelajar sudah mulai dikenalkan dengan sistem panen yang lebih modern.
“Ke depan kita akan menggunakan teknologi yang lebih canggih lagi, seperti mesin panen harvester,” katanya.
Pertanian Presisi Mulai Diperkenalkan Sejak Dini
Ust Doni menilai bahwa masa depan pertanian memang mengarah pada pertanian presisi, yakni sistem pertanian yang mengutamakan ketepatan dalam penggunaan benih, pupuk, air, dan teknologi.
Namun ia mengingatkan bahwa pertanian presisi memiliki tantangan besar, terutama pada aspek sumber daya manusia dan pembiayaan.

Karena itu, menurutnya, pengenalan teknologi harus dimulai sejak usia pelajar.
“Di Al-Zaytun, para pelajar sudah mulai kita kenalkan dengan penggunaan teknologi, termasuk drone dan alat-alat mekanisasi lainnya. Dari situ mereka mulai memahami bagaimana pertanian yang efisien dan presisi,” ujarnya.
Kurikulum LSTEAMS Diaktualisasikan Lewat Pertanian
Sementara itu, penanggung jawab lainnya, Ustazah Siti Umawaroh, S.Pd., M.P. menjelaskan bahwa kegiatan pertanian di Al-Zaytun juga menjadi bagian nyata dari implementasi kurikulum LSTEAMS, yaitu:
-
Law
-
Science
-
Technology
-
Engineering
-
Arts
-
Mathematics
-
Spirituals
Menurutnya, pendekatan ini membuat pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar diaktualisasikan di lapangan.
1. Law: Minim Kimia, Maksimalkan Organik
Dalam praktik budidaya, Al-Zaytun disebut sangat meminimalkan penggunaan pupuk kimia dan lebih mengutamakan pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang.
“Per meter persegi lahan kami aplikasikan sekitar 4 kilogram kompos. Kalau dihitung per hektare, sekitar 40 ton. Jadi penggunaan pupuk kimia sangat ditekan,” jelasnya.
Selain itu, hasil panen yang nantinya diproses dan dikemas juga disebut tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemutih, sehingga lebih aman untuk dikonsumsi.
2. Science dan Technology: Berbasis Riset
Dari sisi sains, seluruh proses penanaman dan penelitian dilakukan dengan merujuk pada jurnal dan referensi ilmiah.
Jika hasil panen dan penelitian menunjukkan capaian yang baik, maka hasil tersebut diupayakan untuk dapat dikembangkan menjadi bahan publikasi atau dokumentasi ilmiah.
3. Engineering: Efisiensi dan Intensifikasi
Pada aspek engineering, pertanian diarahkan untuk mencapai hasil optimal dengan efisiensi input, baik pupuk, tenaga, maupun sistem budidaya.
4. Arts: Kualitas dan Standar Hasil
Aspek seni atau arts terlihat dalam perhatian terhadap kualitas hasil panen, mulai dari kadar air, daya simpan, mutu beras, hingga tampilan kemasan.
5. Mathematics: Ketelitian dan Presisi
Menurut Siti Umawaroh, unsur matematika juga hadir kuat dalam praktik pertanian, terutama dalam menghitung luas lahan, dosis pupuk, takaran input, hingga evaluasi hasil.
6. Spirituals: Pertanian Sebagai Bagian dari Nilai Kehidupan
Sedangkan dari sisi spiritual, para pelajar dibentuk untuk memahami bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi juga bagian dari nilai ibadah, ketekunan, dan kebermanfaatan.
“Kami sampaikan kepada para pelajar bahwa menanam adalah bagian dari proses kehidupan yang penuh nilai. Ini juga terkait dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan teladan para nabi,” Ujarnya.
Panen Diperkirakan Berlangsung Tujuh Hari
Panen padi Khoshihikari di Al-Zaytun diperkirakan berlangsung selama tujuh hari hingga seluruh lahan terselesaikan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa pertanian di Al-Zaytun tidak dibangun secara seremonial, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang benar-benar dijalankan secara berkelanjutan.
Menjawab Krisis Pangan Lewat Generasi Muda
Di saat banyak generasi muda larut dalam dunia digital dan konsumsi instan, Al-Zaytun justru memperlihatkan model pendidikan yang mengajak pelajar turun ke lapangan, memahami proses produksi pangan, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari solusi masa depan.

Apa yang dilakukan para pelajar di sawah Al-Zaytun hari ini menjadi pesan penting bahwa pertanian bukan sektor masa lalu, melainkan sektor masa depan.
Dari sawah, riset, data, teknologi, hingga nilai spiritual, Al-Zaytun mencoba menjawab satu tantangan besar bangsa: bagaimana membangun kedaulatan pangan dari generasi muda. (Saheel Untuk Indonesia)



