lognews.co.id, Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr. Wihaji S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa momentum Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bukti nyata berjalannya delapan fungsi keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikan Menteri Wihaji saat memimpin apel pagi pasca Idulfitri yang digelar pada Senin (30/6/2026). Ia menyebut, momen Lebaran seharusnya dipahami sebagai refleksi penting untuk kembali menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Menurut Wihaji, rangkaian tradisi Lebaran seperti saling memaafkan, berkumpul lintas generasi, menguatkan ikatan cinta kasih, serta meneguhkan nilai spiritual, menunjukkan bagaimana fungsi keagamaan, sosial budaya, perlindungan, kasih sayang, hingga pembinaan lingkungan berjalan secara alami di tengah masyarakat. Bahkan, interaksi dalam momen ini diyakini menjadi ruang penguatan karakter yang tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun di luar keluarga. “Momentum Lebaran adalah momentum untuk mengingatkan delapan fungsi keluarga, dan ini sangat penting. Jika ingin memperbaiki bangsa, kembalinya harus ke keluarga sebagai unit terkecil dan paling dasar,” tegas Menteri Wihaji.
Ia menambahkan, memasuki bulan Syawal, setiap ASN di lingkungan kementerian perlu menjadikan fase pasca-Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki niat, memperkuat integritas, serta meningkatkan ketulusan dalam memberikan pelayanan publik. Dengan kondisi global yang terus berubah dan kebijakan yang harus beradaptasi, seluruh jajaran dituntut responsif dan tetap optimistis. Wihaji meyakini bahwa transformasi kelembagaan akan berjalan efektif apabila dimulai dari kualitas keluarga yang kuat, baik keluarga ASN maupun masyarakat luas.
Di tengah tantangan kependudukan dan dinamika sosial yang terus berkembang, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menegaskan komitmennya untuk memperkuat fungsi keluarga sebagai basis pembentukan karakter, peningkatan kesejahteraan, serta ketahanan nasional. Lewat penguatan delapan fungsi keluarga, pemerintah menargetkan pembangunan manusia Indonesia dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan, selaras dengan visi besar penguatan keluarga sebagai pusat pembangunan bangsa.



