lognews.co.id, Jakarta — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meminta masyarakat mengatur waktu perjalanan arus balik Lebaran 2026 dan menghindari perjalanan pada 28–29 Maret guna mencegah lonjakan kepadatan. Ia mendorong pemudik memanfaatkan fleksibilitas kerja jarak jauh (WFA) serta diskon tarif tol 30% pada 26–27 Maret sebagai strategi pemerataan arus kendaraan. Pemerintah juga masih menerapkan pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga ke atas hingga 29 Maret untuk menjaga kelancaran mobilitas. (25/3/26)
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melaporkan puncak arus balik telah mulai terlihat dengan 2,04 juta kendaraan tercatat masuk kembali ke Jakarta dari total 2,52 juta kendaraan yang meninggalkan wilayah Jabodetabek pada masa mudik. Puncak tertinggi terjadi pada malam sebelumnya ketika 256.338 kendaraan melintas, melampaui angka tahun lalu yang mencapai 223.163 kendaraan.
Pada Rabu siang, 25 Maret, sekitar 82.000 kendaraan tambahan juga telah memasuki Jakarta. Untuk menyesuaikan fluktuasi volume kendaraan, Polri mengaktifkan rekayasa lalu lintas berbasis indikator volume capacity ratio (VC ratio), mulai contraflow, one way sepenggal, hingga one way nasional. Rekayasa di Gerbang Tol Kalikangkung pun kini diturunkan dari one way nasional menjadi one way sepenggal setelah kepadatan mulai menurun.
Jenderal Sigit mengingatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama, terutama agar pemudik tidak memaksakan berkendara saat lelah dan memanfaatkan rest area maupun fasilitas istirahat di jalur arteri. Polri juga memperpanjang masa operasi pengamanan arus balik beberapa hari ke depan untuk memastikan lalu lintas tetap terkendali hingga akhir periode libur.
Menko PMK Pratikno menyampaikan arus mudik tahun ini berjalan lancar meski terjadi peningkatan volume kendaraan sekitar 4,6–5 persen. Ia mencatat penurunan angka kecelakaan hingga 16 persen sebagai hasil sinergi Kemenhub, Polri, BUMN operator jalan tol, serta sistem pemantauan berbasis data real time. Pemerintah memperkirakan arus balik meningkat lebih dari 5 persen dan berpotensi menumpuk di akhir periode libur, sehingga masyarakat diminta kembali lebih awal untuk menghindari bottleneck. (Amri-untuk Indonesia)



