Saturday, 14 March 2026

BRIN Kembangkan Teknologi Kubah Kolam Ikan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Cibinong — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan dua teknologi budidaya perikanan yang telah dipatenkan dan dilisensikan, yaitu kubah kolam ikan serta sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk mendukung proses pendederan ikan nila dan meningkatkan efisiensi produksi benih. (12/3/2026)

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fauzan Ali, menjelaskan pengembangan teknologi kubah kolam ikan berawal dari persoalan rendahnya produksi benih di sebuah Balai Benih Ikan (BBI) akibat fluktuasi suhu air yang ekstrem antara siang dan malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan ikan mengalami stres, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Teknologi kubah kolam dirancang untuk menutup permukaan kolam menggunakan atap transparan yang mampu memerangkap panas matahari sehingga suhu air lebih stabil. Dengan metode ini, selisih suhu air antara siang dan malam dapat ditekan hingga kurang dari lima derajat Celsius tanpa memerlukan penggunaan listrik.

Menurut Fauzan, teknologi tersebut juga lebih efisien dibanding sistem pemanas air konvensional yang membutuhkan energi listrik dan biaya operasional tinggi. Material kubah dapat dibuat dari bahan sederhana seperti rangka bambu atau kayu dengan penutup plastik sehingga lebih ekonomis bagi pembudidaya.

Hasil uji coba di Balai Benih Ikan Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, menunjukkan peningkatan produksi benih ikan secara signifikan setelah pemasangan kubah kolam. Produksi benih tercatat mencapai sekitar satu juta ekor pada tahun pertama, dan dapat meningkat hingga tiga juta ekor per tahun ketika kubah diterapkan pada beberapa kolam sekaligus.

Selain kubah kolam, tim peneliti juga memperkenalkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) yang berfungsi menjaga kualitas air melalui sistem filtrasi berlapis. Air dari kolam pemeliharaan akan disaring melalui filter fisik dan biologis sebelum dialirkan kembali sehingga dapat digunakan secara berulang dalam proses budidaya.

Fauzan menilai kedua teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk diterapkan pada unit pembenihan ikan di Indonesia. Dengan dukungan lisensi paten dan proses hilirisasi riset, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi benih ikan serta mendukung pengembangan sektor perikanan nasional.

(Amri-untuk Indonesia)