Saturday, 14 March 2026

BRIN Paparkan Peluang Kolaborasi Misi Bulan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Bandung — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk berkolaborasi dalam misi eksplorasi dan observasi astronomi di bulan melalui forum ilmiah yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung. Kegiatan tersebut membahas potensi keterlibatan Indonesia dalam program observatorium lunar internasional. (10/3/2026)

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, menyatakan pengamatan astronomi selama ini umumnya dilakukan dari permukaan bumi dengan teleskop yang mengarah ke langit. Namun perkembangan teknologi membuka peluang observasi dilakukan langsung dari permukaan bulan yang memiliki kondisi lingkungan berbeda dari bumi.

Dalam forum kolokium tersebut, astronom dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB sekaligus Board of Director International Lunar Observatory Association (ILOA), Chatief Kunjaya, menjelaskan bahwa pengamatan dari bulan memiliki sejumlah keunggulan ilmiah dibandingkan observasi dari bumi. Salah satunya adalah minimnya gangguan gelombang radio dari bumi yang biasanya menghambat penelitian astronomi berbasis radio.

Selain itu, bulan memiliki wilayah yang gelap permanen di dasar kawah dengan suhu sangat rendah sehingga perangkat kamera pengamatan tidak membutuhkan sistem pendingin tambahan. Permukaan bulan yang relatif stabil juga memungkinkan pengembangan teknologi Very Long Baseline Interferometer (VLBI) yang dapat meningkatkan akurasi pengamatan astronomi.

Kunjaya juga memaparkan perkembangan proyek International Lunar Observatory seperti misi ILO-X yang berhasil mendarat di bulan menggunakan wahana Nova-C. Meski pendaratan mengalami kendala teknis yang membuat kamera tidak berada pada posisi optimal, proyek tersebut menjadi langkah awal menuju pengembangan misi lanjutan seperti ILO-1 dan ILO-2.

Melalui partisipasi dalam program observatorium lunar internasional, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi dalam pengembangan instrumen observasi, termasuk teknologi kamera astronomi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset antariksa nasional serta membuka peluang eksplorasi ilmiah di masa depan.

(Amri-untuk Indonesia)