lognews.co.id – Setiap individu memiliki permasalahan hidup yang berbeda dan cara menghadapi tekanan pun tidak selalu sama. Sebagian orang memilih aktivitas positif, namun ada pula yang meluapkan emosi dengan cara menyakiti diri sendiri atau dikenal sebagai self harm. Perilaku ini umumnya muncul ketika seseorang kesulitan mengelola stres, emosi negatif, atau rasa frustrasi yang berlangsung cukup lama.
Self harm merupakan tindakan melukai diri secara sengaja sebagai bentuk pelampiasan emosi, bukan semata keinginan mengakhiri hidup. Meski demikian, tindakan ini tetap berbahaya karena dapat menimbulkan luka fisik, rasa bersalah, hingga meningkatkan risiko gangguan psikologis apabila tidak ditangani dengan tepat. Perilaku tersebut dapat terjadi pada berbagai usia, meski lebih sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda yang mengalami tekanan emosional.
Sejumlah tanda yang mungkin terlihat pada seseorang yang melakukan self harm antara lain kesulitan menjelaskan asal luka, kecenderungan menutup bagian tubuh tertentu, perubahan suasana hati yang drastis, hingga ucapan yang menunjukkan rasa benci pada diri sendiri. Tanda-tanda ini bukan diagnosis, namun dapat menjadi sinyal awal bahwa seseorang membutuhkan perhatian dan dukungan lingkungan sekitarnya.
Dalam kajian psikologi, perilaku menyakiti diri diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan dan frekuensi. Semakin sering dilakukan dan semakin besar dampaknya terhadap tubuh maupun fungsi sosial, maka semakin tinggi pula risiko yang ditimbulkan. Penilaian tingkat keparahan sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional agar penanganan yang diberikan tepat dan tidak menimbulkan dampak lanjutan.
Berbagai faktor dapat mendorong seseorang melakukan self harm, mulai dari tekanan emosional berkepanjangan, pengalaman traumatis, lingkungan sosial yang tidak suportif, hingga kondisi psikologis tertentu seperti kecemasan dan depresi. Karena itu, penting bagi keluarga dan lingkungan sekitar untuk membangun komunikasi yang aman, tidak menghakimi, serta mendorong pencarian bantuan profesional apabila perilaku tersebut terjadi berulang.
Pendekatan penanganan dapat dilakukan dengan mengenali pemicu emosi, melakukan aktivitas penenang seperti olahraga ringan atau menulis, berbagi cerita dengan orang terpercaya, serta berkonsultasi dengan psikolog atau konselor. Bagi sebagian orang, pendekatan spiritual juga dapat membantu menenangkan pikiran dan memperkuat ketahanan diri dalam menghadapi tekanan hidup.
(Amri-untuk Indonesia)


