lognews.co.id, Bandung – Pemerintah Kota Bandung mengungkap hasil program cek kesehatan gratis (CKG) di lingkungan sekolah yang menunjukkan 71.433 siswa atau 48,19 persen dari total 148.239 pelajar terindikasi memiliki masalah kesehatan mental. Data tersebut diperoleh dari hasil skrining kesehatan pelajar di berbagai jenjang pendidikan. (8/2/2026)
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menyebut temuan paling menonjol terjadi pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sederajat, di mana 49,09 persen siswa menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.
Pada kelompok pelajar SMP, sekitar 30,55 persen siswa menunjukkan masalah kesehatan jiwa, 76,46 persen mengalami gejala ansietas atau kecemasan ringan, serta 7,89 persen terindikasi ansietas berat. Selain itu, 15,23 persen siswa mengalami gejala depresi ringan dan 7,42 persen terindikasi depresi berat.
Sementara pada jenjang sekolah dasar (SD) sederajat, sebanyak 43.390 siswa dari 80.724 siswa yang diperiksa atau sekitar 53,75 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa yang didominasi gejala kecemasan ringan dan depresi ringan. Pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) sederajat, angka indikasi tercatat sebesar 25,79 persen, sedangkan pada sekolah luar biasa (SLB) mencapai 48,51 persen.
Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat, M. Ilmi Hatta, menilai kondisi tersebut sudah memasuki kategori peringatan serius dan memerlukan intervensi profesional. Menurutnya, peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah penting namun memiliki keterbatasan dalam menangani kasus dengan tingkat keparahan tertentu.
Ia menegaskan kasus kesehatan mental dengan tingkat berat memerlukan keterlibatan psikolog profesional untuk memberikan terapi dan pendampingan langsung kepada siswa.
Himpunan Psikologi Indonesia direncanakan akan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan serta Dinas Kesehatan untuk melakukan intervensi di sekolah melalui pelatihan guru BK, program training of trainers (ToT), pendampingan psikolog, hingga psikoedukasi bagi orang tua di tingkat kewilayahan.
Langkah kolaboratif tersebut diharapkan dapat memperkuat deteksi dini, penanganan, serta dukungan lingkungan pendidikan dan keluarga terhadap kesehatan mental pelajar di Kota Bandung. (Amri-untuk Indonesia)


