lognews.co.id, Indramayu - Sejarah mencatat keberanian para pemuda merumuskan pendidikan nasionalisme dan demokrasi dalam rapat sumpah pemuda maka di masa hari ini, Syaykh Panji Gumilang memancing dengan pertanyaan untuk para santri dan Civitas Ma'had Al-Zaytun diperingatan hari sumpah pemuda ke - 96 tahun 2024 "Apa yang kita bisa berikan kepada Negara Indonesia Raya ?" (28/10/2024).
Peringatan sumpah pemuda kali ini mengusung tema "Maju Bersama Indonesia Raya dengan Semangat Remontada From Within" meriah dilaksanakan di Masjid Rahmatan Lil Alamin, Ma'had Al-Zaytun seluruh santri dan Civitas Ma'had Al-Zaytun mengumandangkan Indonesia Raya tiga stanza ciptaan W.R Supratman dan lagu satu nusa satu bangsa ciptaan Liberty Manik kemudian dengan dipimpin oleh Presiden OPMAZ (Organisasi Pelajar Ma'had Al-Zaytun) Mohamad Aziz Alqudus kelas 12 IPS 03 bersuara lantang membacakan teks keputusan kongres pemuda Indonesia tahun 1928 diikuti oleh semua hadirin. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan Syaykh Panji Gumilang mensikapi peringatan hari sumpah pemuda ke - 96 ini.
Dijelaskan Syaykh Panji Gumilang menurut pemahaman sejarah Indonesia, peristiwa sumpah pemuda yang dilakukan merupakan buah dari program pendidikan yang dilakukan oleh Belanda kemudian diistilahkan sebagai Politik Etis. Syaykh mengatakan pada tahun 1905 jadi pembuka penguasaan baru karena Belanda telah sempurna daerah kekuasaannya setelah peperangan sejak 1873 hingga 1904 atau 31 tahun lamanya, akhirnya berhasil membubarkan kesultanan Aceh, maka nusantara sebagian besar telah dikuasai Belanda atas jajahannya mulai dari Merauke masuk ke Sabang.
Kemudian Belanda mengevaluasi apakah jajahan sudah mencakupi wilayah yang dikehendaki untuk dapat membentuk pusat pemerintahan, menjadi negara besar dengan induknya adalah Netherland, maka timbullah pengakuan Belanda atas jajahan tersebut dengan nama Hindia Belanda, dan pada tahun 1905 Belanda mencanangkan istilah politik etis, atau balas budi, maka didirikanlah program pendidikan untuk membekingi pelaksanaan penjajahan, dalam bidang politik, ekonomi, dan ketentaraan, walaupun peserta didiknya terbatas hanya pemuda yang orang tua mereka mempunyai kedekatan dengan administrasi pemerintahan. Dimasa masa sebelumnya kesultanan nusantara belum berpikir seperti Belanda mengenai dibukanya berbagai pendidikan yang rapih, teratur dan memiliki suatu tujuan pembangunan untuk mengangkat bidang kesehatan dengan mendirikan sekolah kedokteran, bidang pertanian melalui sekolah pertanian, bidang teknologi dengan sekolah teknik, kemudian dibidang hukum maka dibuatlah sekolah hukum. Untuk itu anak bangsa dipersiapkan sebagai SDM (sumber daya manusia) yang cerdas karena telah merampungkan pendidikan sehingga mau mengabdi dipemerintahan sesuai keinginan penjajah.
Tidak banyak program, hanya sederhana saja yaitu mendidik namun bagi bangsa Indonesia ini dimanfaatkan, dimana sebagai bangsa cerdas diarahkan mengabdi dipemerintahan namun menyadari ada yang hilang yakni sebagai bangsa yang memiliki satu bahasa.
"Keberhasilan dari sumpah pemuda itu yang kita rasa hari ini adalah kehebatan bahasa Indonesia yang sudah dapat pengakuan dari PBB, dijadikannya sebagai salah satu bahasa yang boleh dipakai dalam Perserikatan Bangsa Bangsa" jelas Syaykh Panji Gumilang dalam tausiyahnya, Senin (28/10/2024)
Maka berkumpullah mereka pada 27-28 Oktober 1928 di tiga lokasi berbeda, yaitu gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw (Rumah Indekos, Kramat No. 106, para pemuda yang bergabung dalam tiap tiap organisasi pelajar seluruh bangsa yang saat itu mewakili kelompoknya seperti Jong Java (pemuda Jawa), Jong Soematra (Pemuda Sumatra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpunan Pelajar pelajar Indonesia merumuskan pendidikan Nasionalisme dan demokrasi, dan terhimpun satu kesepakatan mengikrarkan sumpah pemuda, secara sepakat rela menanggalkan kebanggaan organisasi mereka masing masing demi mencapai kesepakatan dan satu titik tujuan yang sama yaitu secara defacto telah menyatakan diri sebagai bangsa karena mempunyai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.
Kesepakatan itu bukan dibuat pada situasi yang bebas, normal, dan kondisi yang aman, namun kesepakatan yang dikenal sebagai sumpah pemuda dilaksanakan disaat yang tidak bebas yakni dilingkari penjajah yang setiap saat mengawasi pemuda terdidik. Kemudian dijelaskan oleh Syaykh tanpa adanya pendidikan, dan sumpah pemuda tak akan ada kemerdekaan, yang pada tahun 1945 memerdekakan Indonesia dengan kecerdasan dan diplomasi merdeka tanpa angkat senjata.
Hingga kemudian barulah Belanda ingin merebut kembali dan terjadi lumuran darah, resiko yang ditempuh untuk mempertahankan kemerdekaan sampai 5 tahun lamanya hingga dalam hukum Belanda tercatat menyerahkan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Namun setelah merdeka sudah tidak lagi menggunakan rasional karena terjadi pertumpahan darah yang tidak punya arti, dengan membunuh bangsanya sendiri, menuduh bangsanya sendiri, dan menghakimi bangsanya sendiri karena tidak terdidik, mulai dari peristiwa Di/Tii, G30S/PKI, PRRI/Permesta.
Syaykh Panji Gumilang menjelaskan, bahwa dalam sejarah tersebut, bangsa Indonesia sudah mengusir penjajah dan tekuk lutut, dihadapi dengan kecerdasan, meskipun kemudian datang lagi, maka timbul semangat "berani hidup jangan takut mati, takut hidup mati saja" itu semboyan waktu itu, artinya dengan kecerdasan, namun dalam perjalanan kemudian masih ada pertumpahan darah anak bangsa karena tidak kembali pada kecerdasan pendidikan seperti yang dicontohkan saat 1905, 1928, dan1945 yaitu kecerdasan dihasilkan dari pendidikan bukan dari pertumpahan.
Diabad menjelang tahun Indonesia emas bukan dihitung umur namun terbilang secara kualitas melalui perubahan mendasar dibidang pendidikan, sehingga sebagai bangsa tidak boleh mengukur seratus tahun tapi seribu tahun Indonesia yang akan datang.
Maka menurut Syaykh Panji Gumilang dalam mengisi kemerdekaan diperkuat oleh Syaykh dengan pertanyaan
"apa yang bisa engkau persembahkan untuk bangsamu" pertanyaan kepada audience tersebut dimaksudkan untuk dapat dijawab bukan masing masing tapi seperti yang dicontohkan dalam peristiwa sumpah pemuda. (Amri-untuk Indonesia)




