lognews.co.id, dikutip dari CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan Zulkfili Hasan yang baru pulang dari India mengungkapkan ketakjubannya melihat India menjadi negara berpenduduk terbanyak sekitar 1,4 miliar penduduk, namun bisa surplus dan menjadi pengexpor beras di Dunia.
Hal itu diungkapkannya dalam dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, pada Kamis (4/9/2023), dan menilai kebijakan itu seperti metode Indonesia dalam masa orde baru atau zaman Soeharto yaitu dengan menerapkan subsidi sebesar besarnya terhadap petani dan pengelolaan modal, pupuk oleh koperasi sedangkan pemerintah ambil peran dalam penelitian produk pertanian.
Ditambahkannya lagi, Zulhas mencontoh negara Vietnam yang menjaga luas persawahannya untuk tidak dibangun menjadi bangunan apapun, bahkan luasnya bisa melebihi taman Nasional, sedangkan dalam keadaan kekeringan seperti sekarang yang dipengaruhi oleh El Nino, banyak negara yang menahan expor demi mengamankan stok beras dalam negeri, oleh karena masa panennya yang semula bisa dua musim menjadi satu musim.
Untuk itu menurutnya Indonesia sudah saatnya tidak lagi terlalu menggantungkan diri terhadap impor dari negara lain.
Selaras dengan semangat negara negara luar dalam mewujudkan kedaulatan pangan untuk bangsanya, diimplementasikan dalam skup kecil disebuah daerah, tepatnya di Pondok Pesantren terbesar se-Asia Tenggara Al Zaytun.
Melalui penelitian yang dilakukan dilingkungan pesantren yang dilengkapi dengan laboratorium tersebut, pimpinan Alzaytun, Prof. Dr. Dr. (HC). KH. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, Lc., MP., M.A., Ph.D. atau dipanggil Syaykh, sejak lama melakukan penelitian mengembangkan kemandirian pangan untuk santri santrinya melalui swasembada beras.
Terbukti dengan adanya pemberian beras sebanyak 1000 ton dari petani Al Zaytun kepada bulog Indramayu, dengan harga Rp7.300 per kilogram.
Peristiwa tersebut oleh Syaykh diistilahkan sebagai "Sergap" yaitu momen TNI "serap gabah" hasil panen padi dari petani Al Zaytun, dihadiri dua perwira. Ada Kolonel Jimmy Ginting dari Mabes TNI dan Letkol Benny Febriyanto, Dandim Indramayu di tahun 2016 silam.
Selain mempunyai cita cita kedaulatan pangan dan kemandirian dibalut nasionalisme kebangsaan seperti masa kejayaan pangan era kepemimpinan Presiden Soeharto. Syaykh juga mengembangkan padi yang yang diimpor dari Carolina Utara Amerika Serikat menjadi generasi pertama yang dikembangkan dan diuji dilahan penelitian dilingkungan pertanian Al Zaytun, terhitung hanya bermodalkan 8 ons, dan berhasil tumbuh hingga panen yang diumumkan di laman Youtube.com pada (08/04/2023).
Kali ini Syaykh sengaja memilih padi koshihikari karena harga jual yang mahal di pasar internasional. (Amr-untuk Indonesia)



