lognews.co.id – Setiap tanggal 8 Mei, dunia memperingati Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa kemanusiaan yang dilakukan relawan dan organisasi Palang Merah di berbagai negara. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengingat pentingnya solidaritas, kepedulian sosial, dan bantuan kemanusiaan lintas batas negara. (7/5/26)
Tanggal 8 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Henry Dunant, tokoh asal Swiss yang dikenal sebagai pendiri Palang Merah Internasional sekaligus penerima Nobel Perdamaian pertama pada 1901.
Lahirnya gerakan Palang Merah berawal dari peristiwa perang di Solferino, Italia Utara, tahun 1859. Saat itu Henry Dunant menyaksikan ribuan tentara terluka tanpa bantuan medis memadai. Pengalaman tersebut mendorongnya menulis buku berjudul A Memory of Solferino atau Kenangan dari Solferino yang kemudian menggugah perhatian dunia internasional.
Dalam gagasannya, Henry Dunant mengusulkan pembentukan organisasi kemanusiaan internasional yang bersifat netral untuk membantu korban perang tanpa membedakan pihak. Ide tersebut kemudian melahirkan International Committee of the Red Cross pada 1863 di Jenewa, Swiss.
Setahun kemudian, lahir Konvensi Jenewa pertama yang menjadi dasar hukum perlindungan korban perang dan tenaga medis dalam konflik bersenjata internasional. Sejak saat itu, gerakan Palang Merah berkembang ke berbagai negara dan menjadi simbol kemanusiaan dunia.
Di Indonesia, sejarah Palang Merah Indonesia atau PMI telah dimulai sejak masa perjuangan kemerdekaan. Gagasan pembentukan organisasi Palang Merah nasional sempat muncul pada era kolonial Belanda melalui tokoh dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan. Namun usulan tersebut beberapa kali ditolak, termasuk saat pendudukan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno memerintahkan pembentukan badan Palang Merah nasional pada 3 September 1945. Menteri Kesehatan saat itu kemudian membentuk panitia yang dipimpin dr. Mochtar bersama sejumlah tokoh kesehatan nasional.
PMI resmi berdiri pada 17 September 1945 dan langsung bergerak membantu korban perang serta perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia. Kiprah tersebut membuat PMI mendapat pengakuan internasional pada 1950 dan kemudian disahkan pemerintah melalui Keputusan Presiden.
Hingga kini, PMI terus berperan aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari donor darah, pelayanan kesehatan, penanganan bencana, hingga edukasi pertolongan pertama kepada masyarakat. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam sistem kemanusiaan dan kesehatan nasional.
Peringatan Hari Palang Merah Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa nilai kemanusiaan, kepedulian, dan solidaritas tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat di tengah berbagai tantangan global. (Amri-untuk Indonesia)



