lognews.co.id, Teheran — Pemerintah Iran melaporkan sekitar 26 juta warga secara sukarela mendaftar untuk dinas militer melalui program mobilisasi nasional bertajuk “Donasikan Hidupmu”. Angka ini setara hampir 29 persen dari total populasi negara yang mencapai sekitar 90 juta jiwa. (16/4/26)
Informasi tersebut menunjukkan skala mobilisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus mencerminkan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Para relawan disebut akan dikerahkan bersama Korps Garda Revolusi Islam serta militer reguler Iran.
Sejumlah tokoh penting turut tercatat sebagai peserta, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, hingga figur publik dari kalangan olahraga dan budaya. Pemerintah juga mempertimbangkan pembentukan “rantai manusia” untuk melindungi fasilitas strategis nasional.
Di tengah mobilisasi tersebut, jalur diplomasi tetap berjalan. Pakistan muncul sebagai mediator potensial, dengan Kepala Angkatan Darat Asim Munir memimpin pembicaraan di Teheran guna membuka kembali negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Dari pihak Washington, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan tetap menjadi opsi yang diutamakan, meski situasi di lapangan masih sangat dinamis. Ia menyebut perkembangan ke depan berpotensi menjadi “luar biasa”, mengindikasikan peluang sekaligus risiko eskalasi.
Pasar global turut merespons perkembangan ini. Harga minyak dilaporkan mengalami penurunan tipis seiring harapan de-eskalasi konflik. Namun, ketegangan tetap tinggi setelah Teheran memperingatkan kemungkinan gangguan jalur perdagangan strategis di kawasan, termasuk Selat Hormuz, Laut Merah, dan Teluk Persia.
Sementara itu, Tiongkok mendesak agar kebebasan dan keamanan navigasi di Selat Hormuz tetap dijaga, mengingat perannya yang krusial bagi distribusi energi global.
Dengan mobilisasi massal di dalam negeri dan dinamika diplomatik di level internasional, situasi Iran saat ini berada pada titik krusial antara eskalasi konflik terbuka dan peluang penyelesaian melalui jalur negosiasi. (Amri-untuk Indonesia)



