lognews.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai merealisasikan proyek “Kubah Emas” (Golden Dome) sebagai sistem pertahanan luar angkasa untuk menghadang rudal dan drone sebelum mencapai wilayah AS. (13/4/26)
Proyek ini telah memasuki tahap awal pengembangan prototipe dengan melibatkan perusahaan teknologi pertahanan Impulse Space dan Anduril Industries yang ditunjuk Pentagon untuk mengembangkan sistem pelacakan dan penargetan rudal berbasis satelit.
Golden Dome dirancang sebagai jaringan satelit yang mampu mendeteksi, mengunci, dan menghancurkan rudal dari luar atmosfer, menjadikannya versi lebih luas dari sistem Iron Dome milik Israel.
Proyek ambisius yang diumumkan sejak awal 2025 ini diproyeksikan menjadi tulang punggung pertahanan strategis AS, meski jadwal implementasi masih belum pasti dan diperkirakan memakan waktu panjang.
Lembaga Congressional Budget Office memperkirakan pengembangan penuh sistem ini bisa berlangsung hingga 20 tahun, dengan uji coba besar pertama ditargetkan sebelum pemilu presiden AS 2028.
Sejumlah kontraktor besar seperti Northrop Grumman, Lockheed Martin, dan startup True Anomaly juga dilaporkan ikut bersaing dalam pengembangan teknologi serupa untuk tahap produksi akhir.
Namun proyek ini menuai kritik karena dinilai berisiko tinggi dan mahal, dengan estimasi biaya mencapai 3,6 triliun dolar AS hingga 2045, serta berpotensi memicu perlombaan senjata baru dengan negara seperti China dan Rusia. (Amri-untuk Indonesia)



