Sunday, 19 April 2026

India Wacanakan Lepas Ular dan Buaya di Perbatasan Bangladesh

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id  – Pemerintah India tengah mempertimbangkan langkah tidak konvensional dengan memanfaatkan ular dan buaya sebagai “penghalang alami” di perbatasan dengan Bangladesh. Kebijakan ini muncul sebagai respons terhadap tingginya kasus penyeberangan ilegal di wilayah yang sulit dijangkau pengamanan konvensional. (13/4/26)

Gagasan tersebut diungkapkan oleh Wakil Inspektur Jenderal Pasukan Keamanan Perbatasan India, Manoj Barnwal, yang menyebut rencana ini telah dibahas bersama Kementerian Dalam Negeri India dalam pertemuan pada Februari lalu.

Rencana ini difokuskan pada kawasan Sundarbans, hutan bakau terbesar di dunia yang membentang di perbatasan kedua negara. Wilayah ini dikenal sulit dipagari karena kondisi geografis berupa delta sungai yang kerap tergenang banjir.

Pendekatan ini dinilai sebagai upaya “terobosan” dalam memperkuat sistem pengamanan di area yang selama ini menjadi celah penyeberangan ilegal.

Meski demikian, Barnwal mengakui rencana tersebut menghadapi tantangan signifikan, baik dari sisi teknis implementasi maupun dampak terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan.

Unit lapangan telah ditugaskan untuk mengkaji kelayakan penggunaan reptil sebagai bagian dari strategi pengamanan dan diminta segera melaporkan hasil evaluasi.

Kebijakan ini muncul di tengah sikap tegas pemerintah Narendra Modi terhadap isu imigrasi ilegal, khususnya dari Bangladesh. India dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat infrastruktur perbatasan, termasuk pembangunan pagar di sejumlah titik.

Perbatasan India–Bangladesh sendiri membentang lebih dari 4.000 kilometer, dengan sebagian besar wilayahnya belum sepenuhnya dipagari, terutama di kawasan delta yang kompleks.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman melakukan kunjungan ke New Delhi pada 8 April 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan bilateral di tengah dinamika kebijakan perbatasan yang berkembang.

Jika direalisasikan, penggunaan satwa liar sebagai alat pengamanan perbatasan berpotensi memicu perdebatan internasional, terutama terkait aspek kemanusiaan dan lingkungan. (Amri-untuk Indonesia)