lognews.co.id – Majelis Pakar Iran dilaporkan telah memilih Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. Informasi tersebut disampaikan oleh media Iran International yang mengutip sejumlah sumber di dalam negeri.
Namun hingga kini, keputusan tersebut belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Iran. Proses pemilihan disebut berlangsung di tengah situasi krisis keamanan dan meningkatnya konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa keputusan Majelis Pakar diambil di bawah tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Situasi tersebut memicu kontroversi karena dianggap menunjukkan adanya pengaruh militer dalam proses suksesi kepemimpinan tertinggi Iran.
Penunjukan Mojtaba juga memunculkan perdebatan politik karena dinilai menyerupai transisi kekuasaan dalam lingkup keluarga, sesuatu yang selama ini sering dikritik oleh Republik Islam Iran terhadap sistem monarki.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei yang kini berusia sekitar 56 tahun merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei. Ia selama ini dikenal sebagai sosok yang memiliki pengaruh kuat di balik layar dalam sistem politik Iran.
Sejumlah analis menilai Mojtaba telah lama berperan dalam pengelolaan Kantor Pemimpin Tertinggi, serta memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam.
Ia juga pernah bertugas dalam militer Iran pada masa perang Iran–Irak, yang semakin memperkuat relasinya dengan kalangan militer, terutama IRGC.
Kontroversi dan Sorotan Internasional
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei juga disebut memiliki akses terhadap jaringan investasi besar. Beberapa sumber anonim menyatakan ia memiliki akses ke rekening bank di Swiss serta properti mewah di Inggris senilai lebih dari 100 juta dolar AS.
Mojtaba sendiri telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada tahun 2019 karena dianggap memiliki pengaruh dalam sistem kekuasaan Iran.
Jika penunjukan tersebut benar-benar dikonfirmasi, Mojtaba akan memegang jabatan paling berpengaruh dalam struktur politik Iran. Posisi Pemimpin Tertinggi memiliki kewenangan besar, termasuk menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata serta penentu arah kebijakan strategis negara.
Transisi kepemimpinan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas dalam beberapa waktu terakhir.
(Amri-untuk Indonesia)



