lognews.co.id, Jakarta – Parlemen Iran mendorong pemerintah menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah tersebut masih menunggu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Iran, namun wacana ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Lebar selat yang hanya sekitar 33 kilometer menjadikannya salah satu titik sempit paling vital dalam perdagangan energi, menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional.
Data energi internasional menunjukkan sekitar 21 juta barel minyak per hari atau sekitar 22 persen konsumsi cairan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute utama pengiriman gas alam cair serta produk petrokimia ke pasar Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Secara historis, Iran belum pernah benar-benar menutup Selat Hormuz meski kerap mengeluarkan ancaman serupa saat ketegangan meningkat. Penutupan total dinilai berisiko tinggi karena dapat memicu konfrontasi militer terbuka dengan Amerika Serikat dan sekutunya, sekaligus berdampak pada ekspor minyak Iran sendiri yang sebagian besar melewati jalur tersebut.
Ketegangan di kawasan ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi global serta mengganggu rantai pasok internasional. Pemerintah dan pelaku industri energi, termasuk Indonesia, dilaporkan menyiapkan opsi rute alternatif dan memperkuat pemantauan jalur distribusi guna menjaga ketahanan pasokan nasional di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
(Amri-untuk Indonesia)



