Thursday, 14 May 2026

Al - Zaytun Bangun Peradaban dari Shaf yang Kokoh

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh Ali Aminulloh

Pembinaan Jamaah Kabatullah Indonesia di Al - Zaytun

lognews.co.id, Indramayu - Suasana Gedung Bazaar Al-Zaytun pada Rabu, 13 Mei 2026, terasa berbeda. Sekira 45 orang pengurus dan penjab blok Jamaah Kabatullah Indodnesia (JKI) hadir dalam sebuah forum pembinaan yang berlangsung hangat namun sarat gagasan besar tentang peradaban, perjuangan, dan masa depan umat.

Acara dipimpin oleh Kurnoto, SE selaku Sekretaris II JKI. Dengan diawali basmallah, forum berjalan khidmat sekaligus penuh semangat intelektual. Dua narasumber utama hadir memberikan pembinaan, yakni Ketua JKI Syafruddin Ahmad dan Sekretaris JKI Ali Aminulloh.

WhatsApp Image 2026 05 14 at 13.58.33

Dalam pemaparannya, Syafruddin Ahmad menegaskan bahwa misi besar Rasulullah bukan sekadar menghadirkan ritual keagamaan, tetapi memenangkan “din Allah” atas seluruh sistem kehidupan dengan petunjuk ilahi atau hudan. Ia mengutip tiga ayat Al-Qur’an yang memiliki kemiripan redaksi: Surah At-Taubah ayat 33, As-Shaff ayat 9, dan Al-Fath ayat 28.

“Huwalladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqq liyuzhirahu ‘alad dini kullihi...” demikian ayat itu dibacakan dengan penuh penekanan.

Menurutnya, kata din tidak cukup dimaknai sebatas agama dalam pengertian sempit, melainkan peradaban yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Sebuah peradaban, kata dia, hanya akan unggul apabila Al-Qur’an benar-benar dijadikan fondasi hidup, bukan sekadar dibaca, tetapi dipahami dan dilaksanakan.

Ia kemudian mengajak seluruh pengurus JKI untuk membangun shaf yang kokoh. Sebab, keyakinan bahwa Allah Maha Besar harus diwujudkan dalam kerja nyata dan keunggulan peradaban. Islam sebagai agama yang tinggi, menurutnya, tidak akan tampak tinggi bila umatnya tidak melakukan apa-apa.

“Maka kitalah yang meninggikannya,” tegasnya.

Paparan berikutnya disampaikan oleh Dr. Ali Aminulloh yang melanjutkan benang merah pemikiran Ketua JKI dengan mengaitkannya pada perjalanan Rasulullah, Iran, dan Al - Zaytun.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan Rasulullah dalam membawa ajaran ilahi melewati tiga fase besar. Fase pertama adalah baraah, yakni berlepas diri dari kondisi jahiliyah. Pada fase ini, Rasulullah menghadapi penolakan dan permusuhan dari kaum musyrikin.

Fase berikutnya adalah membangun jamaah dan membangun negeri. Namun perjuangan belum selesai, sebab tekanan dan permusuhan masih terus berlangsung. Hingga akhirnya tiba fase kemenangan, yakni Fathul Makkah, ketika ajaran Rasulullah diterima luas dengan gegap gempita.

Menurut Ali Aminulloh, pola sejarah itu juga tampak pada perjalanan Iran modern. Ia menyinggung bagaimana Iran pada tahun 1979 memutuskan berlepas diri dari hegemoni Barat, khususnya Amerika Serikat. Sikap itu membuat Iran menghadapi tekanan internasional, boikot, hingga berbagai provokasi politik dan ekonomi.

Namun di tengah tekanan tersebut, Iran justru membangun kekuatan shaf melalui penguatan intelektual, ekonomi, pertahanan, keamanan, hingga pengembangan teknologi nuklir. Sistem pemerintahannya pun dibangun dengan konsep wilayatul faqih.

“Hasilnya masih dibenci, masih diboikot, bahkan perang meletus. Tetapi kekuatan shaf Iran tidak tertandingi,” ujarnya.

Ia menggambarkan bagaimana dunia terbelalak melihat soliditas Iran, termasuk kecintaan rakyat terhadap para pemimpinnya. Bahkan ketika pemimpin tertingginya wafat, dalam waktu singkat telah tersedia pengganti yang menjaga kesinambungan kepemimpinan bangsa.

Model perjuangan serupa, menurutnya, juga dapat dilihat pada perjalanan Syaykh dan Al Zaytun. Ia menjelaskan bahwa sejak awal, Syaykh memiliki cita-cita besar agar Indonesia berubah melalui pendidikan yang ditopang oleh kemandirian ekonomi.

Karena itu, Al - Zaytun dibangun bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai pusat pembentukan peradaban. Pada masa awal, banyak pihak datang berkunjung dan memberikan apresiasi, namun tidak sedikit pula yang menaruh kecurigaan dan penolakan.

WhatsApp Image 2026 05 14 at 13.58.33 3

Ketika memasuki tahap penguatan shaf melalui pengembangan organisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penataan kelembagaan, berbagai tekanan bahkan persekusi juga terjadi.

Namun, menurut Ali Aminulloh, keadaan perlahan berubah. Setelah berbagai kajian dan kunjungan akademik dilakukan, puluhan profesor disebut mengakui kualitas pendidikan Al - Zaytun. Bahkan beberapa di antaranya menilai model pendidikan seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia ke depan.

“Kelak pemimpin bangsa akan lahir dari alumni Al - Zaytun,” ungkapnya optimistis.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog. Dalam kesempatan itu, KH Khumaedi mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama mendukung program-program JKI sebagai bagian dari ikhtiar membangun umat dan peradaban.

Forum pembinaan tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi keagamaan, tetapi juga arena refleksi tentang bagaimana sebuah gagasan besar dibangun melalui kesabaran, konsistensi, dan kekuatan shaf. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, para peserta tampak pulang membawa keyakinan baru: bahwa peradaban besar tidak lahir secara instan, melainkan ditenun perlahan oleh orang-orang yang memiliki visi, keberanian, dan kesungguhan dalam berjuang. (Amri/Saheel untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah