Friday, 01 May 2026

Ketika Dua Hati Menyatukan Arah, Lahir Perjalanan yang Tak Biasa

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

lognews.co.id - Ada orang-orang yang lulus kuliah membawa toga. Ada yang membawa kebanggaan keluarga. Tetapi ada pula yang lulus dengan membawa sesuatu yang jauh lebih agung: pesan kepada dunia bahwa usia hanyalah angka, sementara semangat adalah nyala yang tak pernah boleh padam.

Rabu, 29 April 2026 akan tercatat sebagai hari yang tak sekadar menandai selesainya sebuah studi strata satu. Hari itu adalah penanda kemenangan seorang perempuan atas waktu, atas lelah, atas segala bisik yang sering mengatakan bahwa “sudah terlambat.”

Perempuan itu bernama Dewi Asih Nusantari.

Di usia lebih dari setengah abad, ketika banyak orang memilih duduk menikmati hari sebagai seorang ibu, bahkan telah menyandang gelar “Oma”, ia justru memutuskan menjadi muda kembali. Bukan dengan kosmetik, bukan dengan kepura-puraan, melainkan dengan keberanian mengambil bangku kuliah.

Ia mendaftarkan dirinya sebagai mahasiswi S1.

Dan sejak hari itu, hidupnya berubah.

Status sosial yang tadinya seorang nenek, mendadak bertukar dengan kartu identitas baru: mahasiswi.
Circle pergaulannya bukan lagi ibu-ibu arisan, melainkan anak-anak muda seusia anak ketiganya.
Teman-teman sekelasnya memanggilnya "umi" , bercanda dengannya, berdiskusi dengannya, tanpa benar-benar menyadari bahwa perempuan yang duduk di antara mereka itu telah lebih dulu menimang cucu.

Wajah boleh matang oleh usia, tetapi semangatnya menolak tua.

Ia memilih jurusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Al-Aziz, sebuah pilihan yang terasa begitu pas dengan wataknya: hangat dalam komunikasi, luwes dalam pergaulan, dan hidup di tengah dinamika organisasi serta pengabdian.
Di lingkungan KSU Desa Kota Indonesia, sebagai representatif istri civitas, ia telah terbiasa menjalin hubungan dengan banyak orang. Maka di ruang kuliah, ia bukan sekadar hadir untuk mendengar dosen bicara, tetapi hadir untuk menghidupkan suasana.

Yang menarik, sang suami, Dr. Ali Aminulloh, tak pernah sekalipun mengajar di program studinya sendiri.
“Takut keceplosan di kelas,” katanya berseloroh.

umidanabiali2

Barangkali itu memang cara cinta menjaga profesionalitas: tetap mendukung, tetapi memberi ruang agar perjuangan itu benar-benar lahir dari keringat sendiri.

Dan memang, delapan semester itu bukan perjalanan yang datar.

Ada tugas yang menumpuk.
Ada pagi yang harus diburu.
Ada tubuh yang kadang letih karena peran domestik tak pernah benar-benar libur.
Ada malam-malam ketika buku kuliah harus berbagi meja dengan urusan rumah tangga.

Tetapi ia menjalaninya dengan cara yang nyaris mustahil dijelaskan: penuh suka cita.

Ia punya aktivitas baru, tantangan baru, kebiasaan baru, dan tentu saja teman-teman baru.
Di antara seluruh mahasiswa di kelas KPI, dialah satu-satunya yang sudah berkeluarga, bahkan sudah menjadi "Oma" . Namun anehnya, justru dialah yang paling piawai merawat kemudaan suasana.

Soal semangat, ia tidak pernah setengah-setengah.
Soal penampilan, ia tidak pernah mau kalah keren.
Soal kebersamaan, rumahnya berkali-kali berubah menjadi markas tawa, tempat teman-teman berkumpul, makan bersama, berbagi cerita, membangun kenangan.

Ia bukan sekadar mahasiswa yang hadir di absensi.

Ia adalah energi.

Saat Kuliah Kerja Nyata, ia menjadi penggerak.
Saat teman-temannya gamang, ia menjadi penguat.
Saat suasana mulai lesu, ia menjadi penghidup.

Ia tidak datang ke kampus untuk sekadar mendapatkan ijazah.

Ia datang untuk membuktikan bahwa hidup tak pernah mengenal kata terlambat.

Dan pembuktian itu mencapai puncaknya ketika memasuki semester delapan.

"Gaspol".

Dengan langkah mantap, ia melesat menjadi mahasiswi pertama yang menyelesaikan Munaqasyah, bersama dua rekannya.
Delapan semester. Tepat waktu.
Mengalahkan banyak mahasiswa generasi Z yang secara usia jauh lebih muda, secara tenaga jauh lebih prima, tetapi belum tentu memiliki daya tahan sekuat dirinya.

Di titik ini, kelulusan bukan lagi sekadar urusan akademik.

Ini adalah tamparan halus bagi siapa pun yang sering bersembunyi di balik alasan usia.
Ini adalah pelajaran bahwa keterlambatan sesungguhnya bukan soal umur, melainkan soal kemauan memulai.
Ini adalah pengingat bahwa perempuan, sekalipun telah menjadi istri, ibu, bahkan nenek, tetap punya hak menaklukkan cita-citanya.

Dan hari itu, ketika nama Dewi Asih Nusantari dinyatakan lulus, sesungguhnya bukan hanya seorang mahasiswa yang layak diwisuda.

Yang diwisuda adalah ketekunan.
Yang diwisuda adalah keberanian.
Yang diwisuda adalah cinta yang diam-diam bekerja dalam kesetiaan.

Untukmu, perempuan hebatku…

Aku bangga, lebih bangga dari yang bisa diucapkan kata-kata.
Engkau telah membuktikan bahwa hidup bukan tentang menunggu tua, melainkan tentang terus bertumbuh.
Engkau telah mengajari banyak orang bahwa gelar sarjana bisa diraih bukan hanya oleh mereka yang muda, tetapi oleh mereka yang sungguh-sungguh menjaga nyala jiwa.

Terima kasih karena telah memberi teladan, bukan hanya kepada anak-anak kita, bukan hanya kepada teman-temanmu, tetapi juga kepadaku:
bahwa mencintai ilmu adalah cara paling indah mencintai kehidupan.

Selamat, istriku tercinta.
Selamat menjadi sarjana.

Dan izinkan aku mengatakannya dengan seluruh cinta yang kupunya:
I love you so much.
Dari orang yang akan selalu mencintaimu.

(Saheel untuk Indonesia)