lognews.co.id, Depok - Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan bernama Rakha Hayya Ilhamsyah berhasil mencuri perhatian dunia internasional setelah menemukan celah keamanan pada salah satu aset digital milik NASA melalui program bug bounty. Prestasi tersebut diraih menggunakan perangkat komputer sederhana dan fasilitas sekolah. (27/4/26)
Rakha yang masih berusia 16 tahun merupakan siswa SMKS Taruna Bhakti. Ia mengikuti program Vulnerability Disclosure Program (VDP), yakni skema resmi yang memberi ruang bagi peneliti keamanan siber untuk melaporkan kerentanan sistem secara legal dan etis.
Berbeda dengan program bug bounty berhadiah uang tunai, VDP lebih menitikberatkan pada pelaporan aman tanpa kompensasi finansial. Meski demikian, peserta yang laporannya valid dapat memperoleh apresiasi berupa ucapan resmi dan pencantuman nama di Hall of Fame.
Rakha mengaku tidak pernah membayangkan penelitiannya akan mendapat pengakuan dari lembaga sebesar NASA. Menurutnya, pencapaian tersebut berawal dari rasa penasaran terhadap dunia keamanan siber sejak sebelum masuk SMK.
Ia mulai serius mendalami bidang tersebut dengan belajar mandiri, membaca referensi teknis, berdiskusi dengan komunitas, serta mencoba memahami cara kerja berbagai sistem digital. Di sela aktivitas sekolah, waktu luang dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan teknis.
Kesempatan datang ketika NASA membuka program VDP kepada publik. Rakha kemudian menelusuri berbagai aset digital milik lembaga antariksa tersebut, termasuk domain dan dokumen yang dapat diakses umum.
Dari proses penelusuran itu, ia menemukan kerentanan jenis broken link hijacking. Celah ini terjadi ketika tautan mati pada suatu situs dapat diambil alih pihak lain dan diarahkan ke konten baru yang berpotensi disalahgunakan.
Untuk menemukan celah tersebut, Rakha menggunakan metode Google Dorking, yaitu teknik pencarian lanjutan guna mengumpulkan informasi dari berbagai domain dan aset digital yang terbuka untuk umum.
Setelah memastikan temuannya, Rakha tidak memilih menyalahgunakan celah tersebut. Ia justru menyusun laporan teknis lengkap berisi detail kerentanan, dampak yang mungkin terjadi, tingkat risiko, serta rekomendasi perbaikan sebelum mengirimkannya ke pihak NASA.
Rakha mengaku sempat diliputi keraguan apakah laporannya akan diterima. Namun rasa itu berubah menjadi kebanggaan ketika temuannya direspons positif.
Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi pelajar lain agar memanfaatkan kemampuan teknologi secara positif. Menurutnya, keberanian mencoba hal-hal kecil dapat menjadi awal jalan besar menuju masa depan.
Prestasi Rakha menjadi bukti bahwa talenta digital Indonesia mampu bersaing di level global. Dari ruang kelas di Depok, seorang pelajar berhasil menembus panggung internasional melalui kemampuan, etika, dan ketekunan. (Amri-untuk Indonesia)



