Oleh: Latif WH
lognews.co.id, Iran - Pagi tadi saya menyaksikan sebuah video pendek yang menghadirkan cerita langsung dari dua mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Iran. Dalam perbincangan santai, keduanya mengungkapkan pengalaman yang cukup mengejutkan, terutama terkait layanan kebutuhan dasar di tengah situasi yang tidak biasa.
Mereka bercerita tentang biaya langganan air, listrik, dan gas di tempat tinggal mereka. Tagihan air hanya sekitar Rp10.000 per bulan. Listrik bahkan lebih murah, sekitar Rp5.000 per bulan, dengan kapasitas daya yang sangat memadai. Berbagai perangkat elektronik seperti AC, kulkas, rice cooker, hingga setrika dapat digunakan secara bersamaan tanpa khawatir listrik padam. Sebuah kondisi yang kontras dengan banyak rumah tangga di Indonesia yang kerap mengalami listrik “njeglek” saat beban berlebih.
Untuk kebutuhan gas, sistem distribusi dilakukan melalui jaringan pipa langsung ke rumah-rumah warga, tanpa menggunakan tabung. Biaya yang dikenakan pun relatif ringan, sekitar Rp20.000 per bulan. Jika ditotal, seluruh kebutuhan dasar tersebut hanya menghabiskan sekitar Rp35.000 per bulan. Pembayarannya pun praktis, ditagihkan secara berkala melalui pesan SMS setiap dua hingga tiga bulan.
Yang paling mencengangkan, menurut kesaksian mereka, selama 32 hari berlangsungnya peperangan (saat video itu dibuat), pasokan air, listrik, dan gas tetap berjalan normal tanpa gangguan berarti. Tidak ada pemadaman, tidak ada kelangkaan, semuanya tetap stabil.
Gambaran ini memperlihatkan bagaimana sebuah negara yang telah lama menghadapi embargo dan tekanan internasional tetap mampu menjaga kemandirian, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya.
Sebuah potret yang mengundang refleksi: bahwa ketahanan suatu bangsa tidak hanya diuji dalam kondisi normal, tetapi justru terbukti dalam situasi paling sulit sekalipun.
Jadi teringat Al-Zaytun, sebuah Pusat Pendidikan yang berada nun jauh di pelosok desa Mekarjaya di Indramayu.
Yang sejak lahirnya, terus menerus dipersekusi, dikriminalisasi, baik secara institusi atau person sesepuhnya, Syaykh A.S. Panji Gumilang. Diperkarakan dan dijerat secara hukum, dengan dalil perkara yang tidak jelas dan sarat rekayasa politis.
Dalam pemberitaan media sering diframing, disebut sarang kesesatan, sarang teroris, disebut sebagai negara dalam negara, dan lain sebagainya.
Dan puncaknya, ketika rekening tabungan biaya operasional milik Al-Zaytun, yang berasal dari biaya belajar siswa, dari hasil berbagai usaha ekonomi mandiri yang dilakukan oleh Al-Zaytun, diblokir bahkan akhirnya disita dengan alasan yang tidak jelas, dan hingga sekarang masih belum dikembalikan, Al-Zaytun tetap terus dapat menyelenggarakan pendidikannya. Tanpa berkurang suatu apapun.
Mungkin pikiran jahat pihak-pihak yang menyita tabungan operasional Al-Zaytun berharap bahwa dalam hitungan satu dua bulan, Al-Zaytun bakal gulung tikar.
Namun berkat perlindungan dan karunia Ilahi, Al-Zaytun tetap kokoh berdiri. Para pelajar dan civitas tidak pernah kekurangan makan. Insentif bulanan untuk guru dan para pekerja lainnya tetap diberikan.
Memang benar adanya, bahwa ketahanan suatu bangsa/ suatu komunitas tidak hanya diuji dalam kondisi normal, tetapi justru terbukti dalam situasi paling sulit sekalipun.
Dan itu telah dibangun di Al-Zaytun melalui sistem pendidikan berkelanjutan yang menanamkan kesadaran dan menumbuhkan kemanusiaan. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan Membangun Semata-mata Hanya untuk Beribadah kepada Allah.
Merdeka !!!



