lognews.co.id, Indramayu — Cantigi (Vaccinium varingiaefolium) dikenal sebagai vegetasi khas dataran tinggi yang kerap dijumpai di kawasan gunung dengan ketinggian di atas 1.500 meter di atas permukaan laut, memiliki peran ekologis sekaligus manfaat praktis bagi masyarakat dan pendaki.
Tanaman ini memiliki batang kokoh dengan percabangan liat yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem seperti paparan sinar matahari langsung, angin kencang, hingga tanah berbatu di kawasan vulkanik. Karakter tersebut menjadikan cantigi kerap dimanfaatkan pendaki sebagai titik pegangan saat melintasi jalur terjal serta tempat berteduh dari cuaca panas maupun hembusan angin di area terbuka.
Daunnya berbentuk lonjong dengan tekstur agak tebal sebagai mekanisme alami menyimpan air. Warna daun muda umumnya kemerahan, kemudian berangsur oranye hingga hijau seiring pertumbuhan, menciptakan kontras visual di lanskap kawah yang cenderung gersang. Di beberapa wilayah, daun muda cantigi juga dikenal dapat dikonsumsi dalam kondisi tertentu oleh masyarakat setempat.
Cantigi menghasilkan bunga kecil berwarna merah muda hingga marun yang tersusun meruncing, kemudian berkembang menjadi buah bulat dengan perubahan warna dari hijau ke ungu kehitaman saat matang. Warna gelap tersebut menandakan kandungan pigmen antosianin yang dalam berbagai kajian ilmiah berpotensi berfungsi sebagai antioksidan alami.
Selain bernilai estetika, keberadaan cantigi berperan sebagai penahan tanah dan indikator ekosistem sub-alpin yang relatif stabil. Di tengah kerasnya lingkungan pegunungan, tumbuhan ini menjadi simbol ketahanan sekaligus sumber daya hayati yang menyimpan potensi ekologis dan nutrisi. (Amri-untuk Indonesia)


