Wednesday, 04 February 2026

Gambut Menjadi Bubur

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh : rasakamanungsan-20/12/2025-

lognews.co.id - Bencana ekologi di Sumatera 2025 layak dikategorikan sebagai krisis yang berdampak global

​Meskipun secara administratif sering dianggap sebagai masalah daerah atau nasional, kerusakan ekosistem di Sumatera memiliki resonansi yang melintasi batas negara karena tiga alasan utama:

​1. Kontribusi terhadap Perubahan Iklim Dunia
​Sumatera memiliki lahan gambut yang merupakan salah satu penyimpan karbon (carbon sink) terbesar di dunia.
- ​Pelepasan Emisi: Ketika hutan gambut di Sumatera terbakar atau dikeringkan, mereka melepaskan jutaan ton CO2 ke atmosfer. Ini mempercepat pemanasan global yang dirasakan di seluruh bumi.
- ​Paru-paru Dunia: Hutan tropis Sumatera adalah bagian dari sabuk hijau khatulistiwa yang berfungsi menyerap gas rumah kaca global.

​2. Kehilangan Biodiversitas Global (Kepunahan Masal)
​Sumatera adalah satu-satunya tempat di bumi di mana Gajah, Badak, Orangutan, dan Harimau hidup berdampingan di alam liar.
​Spesies Endemik: Bencana ekologi seperti banjir bandang dan pembalakan hutan yang masif baru-baru ini (khususnya tragedi akhir 2025 di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara) mengancam spesies seperti Orangutan Tapanuli, dan spesies lain yang disebutkan diatas yang populasinya tinggal sedikit. Kehilangan spesies ini adalah kehilangan bagi sains dan warisan hayati seluruh umat manusia.

​3. Warisan Dunia UNESCO yang Terancam
​Hutan Hujan Tropis Sumatera (TRHS) telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sejak 2011, situs ini masuk dalam daftar "Dalam Bahaya" karena perburuan, pembalakan liar, dan pembangunan jalan. Rusaknya wilayah ini berarti rusaknya aset internasional yang diakui secara hukum global.

Tragedi ekologi di Sumatera saat ini (seperti siklon tropis dan banjir masif akhir 2025) adalah "umpan balik brutal" dari alam atas kerusakan yang sudah bersifat sistemik. Apa yang terjadi di Sumatera bukan lagi sebagai masalah lokal Indonesia, melainkan sebagai garis depan (frontline) dalam perjuangan melawan krisis iklim global.