lognews.co.id, Jakarta – Pengembangan teknologi baterai listrik daur ulang di Eropa berpotensi mengurangi dominasi China dalam industri baterai kendaraan listrik global sekaligus memberi dampak terhadap pasar nikel Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia. (26/5/26).
Dua startup asal Eropa, yakni Altilium dari Inggris dan Tozero dari Jerman, mulai mengembangkan baterai berbahan daur ulang guna memenuhi regulasi Uni Eropa yang akan berlaku mulai Agustus 2030.
Dalam aturan tersebut, minimal 6 persen lithium dan nikel serta 16 persen kobalt pada baterai kendaraan listrik wajib berasal dari material hasil daur ulang. Persentase itu akan terus meningkat setiap lima tahun.
Langkah Eropa tersebut dinilai menjadi tantangan baru bagi China yang selama ini mendominasi teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik dunia.
Altilium mengungkapkan hasil penelitian bersama Imperial College menunjukkan baterai berbahan katoda daur ulang memiliki performa setara dengan baterai yang dibuat dari material baru.
Katoda baterai kendaraan listrik umumnya menggunakan bahan lithium, kobalt, nikel, dan mangan yang selama ini menjadi komponen utama industri kendaraan listrik global.
Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen terbesar nikel dunia yang menjadi bahan penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.
CEO Altilium Christian Marston mengatakan penggunaan material daur ulang mampu mengurangi emisi karbon dioksida hingga 70 persen dan menekan biaya produksi sekitar 20 persen dibanding material baru.
“Terobosan teknis nyata ini membuat penggunaan material daur ulang tak berisiko bagi pabrikan mobil,” ujar Marston.
Saat ini Altilium bekerja sama dengan Tata Motors dari India untuk memproduksi sel baterai menggunakan material daur ulang dari kendaraan listrik Jaguar i-Pace.
Sementara itu, startup Jerman Tozero yang mendapat dukungan Honda tengah membangun fasilitas daur ulang grafit dengan teknologi hidrometalurgi yang diklaim dapat mencapai emisi nol bersih jika menggunakan energi terbarukan.
Grafit diketahui menyumbang hingga 40 persen jejak karbon dalam produksi baterai lithium ion.
Pabrik daur ulang grafit milik Tozero ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas 2.000 ton grafit daur ulang per tahun. Kapasitas tersebut diperkirakan cukup untuk memproduksi sekitar 50 ribu mobil listrik.
Perkembangan teknologi baterai daur ulang di Eropa dinilai dapat mengubah rantai pasok global industri kendaraan listrik, termasuk memengaruhi permintaan bahan baku tambang seperti nikel yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang besar mempertahankan posisi strategisnya apabila mampu memperkuat hilirisasi industri baterai dan pengembangan teknologi energi terbarukan di dalam negeri. (Amri-untuk Indonesia)



