lognews.co.id – Fenomena Solo Table Theory yang ramai diperbincangkan di media sosial kini dinilai bukan sekadar tren makan sendirian, melainkan bagian dari perubahan pola pikir masyarakat terhadap kemandirian dan batas sosial. (17/5/26).
Psikolog Robik Anwar Dani menjelaskan, dahulu makan sendiri kerap dianggap sebagai tanda antisosial atau kurang pergaulan. Namun kini terjadi pergeseran nilai sosiokultural yang membuat aktivitas tersebut dipandang sebagai bentuk otonomi diri.
Menurut dosen psikologi di UKWMS Kampus Kota Madiun itu, fenomena ini muncul di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan sosial, baik di dunia nyata maupun digital. Banyak individu merasa mengalami social fatigue atau kelelahan sosial akibat tuntutan untuk terus aktif, tampil, dan memenuhi ekspektasi lingkungan.
“Makan sendiri menjadi cara seseorang mengambil jeda dari tekanan eksternal dan mengembalikan kendali atas dirinya,” ujar Robik.
Ia menilai pelaku Solo Table Theory sedang melakukan restrukturisasi kognitif, yakni mengubah persepsi negatif tentang kesendirian menjadi simbol kontrol diri dan kebebasan memilih tanpa membutuhkan validasi sosial.
Dalam perspektif psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep solitude atau kesendirian yang bersifat positif. Robik menegaskan, solitude berbeda dengan loneliness atau kesepian yang menyakitkan secara emosional.
Menurutnya, Solo Table Theory dianggap sehat ketika seseorang memilih menikmati waktu sendiri untuk refleksi dan pemulihan energi, bukan karena merasa terisolasi dari lingkungan sosial.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengglorifikasi kesendirian secara berlebihan. Sebab, manusia tetap merupakan makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan koneksi emosional dengan orang lain.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan gaya hidup generasi modern yang semakin menempatkan kesehatan mental, ruang pribadi, dan keseimbangan sosial sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
(Amri-untuk Indonesia)



