lognews.co.id, — Kenaikan harga plastik dipicu mahalnya minyak bumi yang menjadi bahan baku utama produksi polimer. Industri plastik mengandalkan naphtha turunan minyak bumi untuk menghasilkan monomer seperti etilena dan propilena yang kemudian dipolimerisasi menjadi berbagai jenis plastik. (7/4/26)
Plastik modern terbagi dalam tiga kelompok polimer: termoplastik, elastomer, dan polimer termoset. Ketiganya diproduksi dari bahan kimia berbasis karbon, dengan minyak bumi sebagai sumber utama monomernya.
Termoplastik dapat dibentuk ulang karena melunak ketika dipanaskan dan mengeras saat didinginkan. Contohnya PVC dan polyethylene. Elastomer bersifat lentur seperti karet dan kembali ke bentuk semula, misalnya silikon. Polimer termoset langsung mengeras saat dipanaskan sehingga tidak dapat dibentuk ulang, seperti resin fenolik.
Struktur plastik berasal dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Minyak bumi menjadi bahan baku paling dominan karena mengandung hidrokarbon yang dapat diproses menjadi monomer. Pada tahap pemurnian, minyak bumi diolah menjadi naphtha yang menghasilkan olefin seperti etilena, propilena, butadiena, dan butana. Senyawa aromatik seperti benzena, toluena, dan xilena juga dihasilkan dari proses ini. Olefin dan aromatik dipolimerisasi menjadi rantai panjang yang kemudian diolah menjadi berbagai jenis plastik.
Selain minyak bumi, bahan lain seperti selulosa dan gas alam juga digunakan. Selulosa dari tumbuhan diproses menjadi bioplastik melalui modifikasi kimia. Gas alam menyediakan etilena dan propena sebagai monomer untuk polietilena dan polipropilena.
Naphtha sebagai turunan minyak bumi menjadi komponen paling krusial dalam produksi plastik global. Ketersediaan dan harganya sangat memengaruhi biaya produksi di industri manufaktur.
(Amri-untuk Indonesia)



