lognews.co.id - Generasi Z yang dikenal sebagai kelompok paling akrab dengan teknologi justru tercatat sebagai salah satu kelompok usia paling sering menjadi korban penipuan daring atau online scam. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan karena Gen Z tumbuh di era internet dan media sosial, namun tetap menghadapi risiko tinggi terhadap kejahatan digital.
Sejumlah riset internasional terhadap lebih dari tujuh ribu responden di berbagai negara menunjukkan sekitar 52 persen Gen Z pernah kehilangan uang atau data akibat penipuan daring. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan milenial yang berada di kisaran 46 persen, sementara kelompok usia lebih tua seperti Baby Boomers dan Generasi Silent berada jauh di bawahnya. Persentase korban Gen Z juga dilaporkan meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Modus penipuan yang paling sering menargetkan Gen Z meliputi penipuan kencan daring, phishing melalui tautan palsu, hingga pencurian identitas digital. Selain itu, penawaran investasi instan dan diskon belanja tidak wajar juga menjadi pola yang kerap muncul di media sosial serta marketplace. Kebiasaan beraktivitas digital sepanjang hari membuat kelompok usia ini lebih sering terpapar risiko dibanding generasi lain.
Kerentanan Gen Z dipengaruhi beberapa faktor, antara lain intensitas penggunaan internet yang sangat tinggi, kecenderungan mencari keuntungan cepat melalui tren investasi digital, serta kepercayaan besar terhadap influencer atau figur publik di media sosial. Di sisi lain, literasi keamanan digital belum selalu sebanding dengan kemampuan teknis menggunakan aplikasi dan perangkat.
Tekanan ekonomi, gaya hidup sosial, serta rasa percaya diri berlebih terhadap keamanan perangkat juga memperbesar peluang terjadinya penipuan. Banyak pengguna muda menganggap perangkat otomatis aman tanpa memperbarui sistem atau mengaktifkan fitur keamanan tambahan, sehingga celah digital tetap terbuka bagi pelaku kejahatan siber.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui peningkatan literasi digital, kewaspadaan terhadap tawaran yang terlalu menguntungkan, verifikasi sumber informasi sebelum transaksi, serta penggunaan autentikasi dua faktor pada akun media sosial, email, dan layanan keuangan. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu menekan risiko sekaligus membangun kebiasaan digital yang lebih aman di kalangan generasi muda.
(Amri-untuk Indonesia)


