lognews.co.id – Teknik ecoprint menjadi salah satu metode menghias kain yang kini semakin diminati karena ramah lingkungan, murah, dan dapat dilakukan siapa saja hanya dengan memanfaatkan daun di sekitar rumah. Ecoprint memanfaatkan pigmen alami tumbuhan tanpa bahan kimia sehingga aman sekaligus memiliki nilai seni tinggi.
Metode paling sederhana yang dapat digunakan pemula adalah teknik pounding atau teknik pukul. Peralatan yang dibutuhkan sangat sederhana, yakni kain serat alami seperti katun atau blacu, palu kayu, plastik bening, serta berbagai daun atau bunga berwarna seperti daun singkong, daun pepaya, daun jati, bunga telang, hingga daun kemerahan di pekarangan rumah.
Tahap awal dalam proses ecoprint adalah mordanting atau persiapan kain. Kain direndam dalam campuran air dan tawas untuk membuka pori serat sehingga warna daun dapat menempel maksimal. Setelah direndam, kain dikeringkan tanpa perlu dicuci ulang. Tahapan ini menjadi penentu utama ketahanan warna pada hasil akhir.
Setelah kain siap, proses dilanjutkan dengan penataan daun. Kain dibentangkan di permukaan rata, kemudian daun disusun sesuai kreativitas. Posisi tulang daun diarahkan menghadap kain agar pola serat tercetak lebih jelas. Kombinasi daun besar sebagai fokus dan daun kecil sebagai aksen dapat menciptakan komposisi visual yang lebih menarik dan dinamis.
Daun yang telah disusun kemudian ditutup menggunakan plastik bening agar tidak bergeser. Proses pemukulan dilakukan perlahan namun merata menggunakan palu kayu hingga pigmen warna alami keluar dan menempel pada kain. Intensitas pukulan tidak perlu terlalu keras, yang terpenting adalah konsistensi dan pemerataan di seluruh permukaan daun.
Tahap berikutnya adalah pengeringan. Daun dilepas secara perlahan lalu kain diangin-anginkan hingga benar-benar kering. Kain tidak disarankan langsung dicuci karena pigmen warna masih berproses menempel secara alami. Setelah kering, dilakukan fiksasi dengan merendam kain dalam larutan air panas dan tawas selama 5–15 menit untuk mengunci warna agar tidak mudah pudar.
Pemilihan daun sangat memengaruhi hasil ecoprint. Daun jati menghasilkan warna merah marun kuat karena kandungan tanin tinggi, daun pepaya dan singkong memberi pola tegas, bunga telang menciptakan nuansa ungu kebiruan, sementara daun mangga atau eucalyptus menghasilkan kesan hijau lembut dan elegan.
Selain mudah diterapkan, ecoprint memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi. Kain hasil ecoprint dapat diolah menjadi tas, syal, taplak, hingga pakaian bernilai jual tinggi. Teknik ini juga mendukung gaya hidup berkelanjutan karena memanfaatkan bahan alami tanpa limbah kimia.
Kunci utama keberhasilan ecoprint terletak pada pemilihan daun, komposisi warna yang menarik, serta kesabaran dalam proses pemukulan. Dengan daun seadanya, siapa pun dapat menciptakan karya kain unik yang alami, artistik, dan tidak pernah sama di setiap lembar hasilnya. (Amri-untuk Indonesia)


