lognews.co.id, Indramayu – Busana adat Pengantin Indramayu, yang dikenal sebagai Pengantin Dermayon Putri dan Pengantin Dermayon Kebesaran, merupakan warisan budaya yang lahir dari proses akulturasi panjang antara budaya lokal Dermayu dengan pengaruh Cina, Belanda, dan Betawi. Keunikan busana ini tidak hanya terletak pada bentuk visualnya, tetapi juga pada filosofi serta nilai sejarah yang melekat kuat di setiap detailnya.
Busana pengantin Dermayu telah dikenal sejak puluhan tahun silam dan dahulu digunakan oleh kalangan tertentu dalam masyarakat Indramayu. Seiring perjalanan waktu, busana ini sempat ditinggalkan dan jarang digunakan, sebelum kemudian diupayakan kembali pelestariannya sebagai pengantin baku (asli) Indramayu.
Upaya pelestarian tersebut mulai diperkuat sejak 20 November 2022, ketika organisasi Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) DPC Indramayu melaksanakan pembakuan (pemakeman) Pengantin Dermayu Agung. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga adat pengantin asli Kabupaten Indramayu agar tetap lestari dan memiliki standar yang jelas sebagai identitas budaya daerah.
Bentuk dan rupa busana pengantin Dermayu dipertahankan tanpa perubahan, sehingga kesan klasik, kental, dan sarat sejarah masih sangat terasa. Inilah yang menjadikan busana ini berbeda dari busana pengantin daerah lain di Jawa Barat.
Pada prosesi akad nikah, busana yang digunakan dikenal dengan sebutan Dermayon Putri. Pengantin perempuan mengenakan busana berwarna putih sebagai simbol kesucian, sementara pengantin pria menggunakan blangkon sebagai penutup kepala.
Sementara itu, pada prosesi resepsi digunakan busana Dermayon Kebesaran. Busana ini terbuat dari bahan beludru impor berwarna merah maroon yang melambangkan keagungan dan kebesaran. Pengantin pria mengenakan siger kuluk, sedangkan pengantin perempuan menggunakan siger kuluk berhias Burung Hong, simbol keperkasaan dan kekuatan yang berasal dari pengaruh budaya Cina.
Siger kuluk memiliki filosofi yang sangat kaya. Bentuknya menyerupai kembang kapas, dengan hiasan Cundung Mentul berjumlah tujuh yang melambangkan tujuh hari dalam satu minggu. Terdapat pula simbol Garuda sebagai lambang negara. Sumping pada siger tersusun dari enam untaian swarovski yang melambangkan rukun iman, sementara hiasan mute-mute di dahi berjumlah lima sebagai simbol rukun Islam.
Pengaruh budaya Belanda tampak pada penggunaan aksesori khas seperti badong (ikat pinggang) dan kalung dou’bloon bergambar Ratu Wilhelmina. Gelang yang dikenakan terdiri dari gelang pilitan dan gelang pipih sigar penjalin, sementara cincin khas bernama coroan memiliki bentuk menyerupai kecoa.
Busana ini juga dipadukan dengan kain batik bermotif kembang kapas yang pada masa lampau hanya dikenakan oleh kaum bangsawan. Aksesori rusa bermata berlian pada siger kuluk pengantin pria turut memperkuat identitas busana adat ini sebagai simbol kemewahan dan status sosial.
Keseluruhan unsur tersebut menjadikan busana Pengantin Dermayon Putri dan Pengantin Dermayon Kebesaran bukan sekadar busana pernikahan, melainkan cermin perjalanan sejarah, percampuran budaya, serta identitas masyarakat Indramayu yang unik dan bernilai tinggi. (Amri-untuk Indonesia)


