الأربعاء، 04 شباط/فبراير 2026

Wayang Golek Cepak Indramayu Mendunia, Sanggar Jaka Baru Ekspor Ratusan Wayang Ke Amerika Serikat

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Indramayu – Wayang Golek Cepak atau Wayang Golek Papak semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai identitas budaya khas Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kesenian tradisional ini kini tidak hanya bertahan di tingkat lokal, tetapi juga menembus pasar internasional melalui karya-karya Sanggar Jaka Baru di Kecamatan Sliyeg.

Berbeda dengan wayang golek pada umumnya, Wayang Golek Cepak memiliki ciri khas pada bentuk kepala yang rata serta penggunaan ikat kepala. Lakon yang diangkat pun lebih banyak mengisahkan cerita kerajaan Nusantara, menjadikannya sebagai representasi nilai sejarah dan budaya lokal.

WAYANG CEPAK MENEMBUS PASAR INTERNASIONAL

Manajer Sanggar Jaka Baru, Sadim, mengungkapkan bahwa seorang warga Amerika Serikat membeli satu peti berisi sekitar 100 karakter wayang golek cepak dengan nilai transaksi mencapai Rp45 juta. Permintaan tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi Indramayu memiliki daya tarik global.

Selain produk wayang, sanggar ini juga menarik minat wisatawan mancanegara yang datang untuk mempelajari pembuatan topeng dan gamelan khas Indramayu. Fenomena ini menunjukkan bahwa kearifan lokal mampu berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang kompetitif di tingkat internasional.

SANGGAR JAKA BARU, PENJAGA WARISAN BUDAYA

Sanggar Jaka Baru yang berlokasi di Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, menjadi salah satu pusat pelestarian wayang cepak dan seni topeng di wilayah Indramayu dan Cirebon. Sanggar ini didirikan oleh Ki Warsad Darya, seorang dalang wayang cepak yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga tradisi seni budaya.

Ki Warsad menceritakan bahwa sanggar tersebut berdiri sekitar tahun 1964. Awalnya, ia mendalang dengan menyewa wayang milik kerabat. Namun, setelah akses tersebut dihentikan, ia memilih mendirikan sanggar sendiri dan memproduksi wayang secara mandiri. Nama “Jaka Baru” diambil dari status Ki Warsad yang saat itu masih perjaka.

Pada masa kejayaannya, Sanggar Jaka Baru mampu menggelar hingga 150 pementasan dalam setahun. Wilayah pementasan mencakup Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Subang, Bandung, Yogyakarta, hingga berbagai daerah lain di Pulau Jawa. Sanggar ini bahkan pernah tampil di Jepang pada ajang Asian Games 1994 di Hiroshima.

PERJUANGAN DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Memasuki era modern, popularitas wayang cepak mulai mengalami penurunan akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini, pementasan wayang cepak hanya berlangsung sekitar 15 kali dalam setahun. Meski demikian, Sanggar Jaka Baru tetap bertahan melalui produksi kerajinan wayang, topeng, dan kesenian tradisional lainnya.

Kini, estafet pelestarian wayang cepak dilanjutkan oleh anak-anak Ki Warsad, sementara anggota keluarga lainnya terlibat dalam produksi busana dan perlengkapan seni. Keberlanjutan sanggar ini menjadi simbol ketahanan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Wayang Golek Cepak tidak hanya menjadi warisan seni pertunjukan, tetapi juga identitas budaya dan potensi ekonomi kreatif yang terus berkembang. (Amri-untuk Indonesia)