lognews.co.id, Jakarta – Sekitar 400 ribu perempuan di Indonesia diperkirakan berisiko mengalami kanker serviks. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 36 ribu kasus yang berhasil terdeteksi, menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker leher rahim. (28/1/26)
Kesenjangan antara estimasi dan deteksi kasus mencerminkan fenomena “gunung es” dalam penanganan kanker serviks di Indonesia. Secara nasional, cakupan skrining baru mencapai sekitar 7 persen, jauh di bawah target pemerintah.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menyebut angka kematian akibat kanker di Indonesia masih tergolong tinggi.
“Kalau kita berbicara kanker di Indonesia, angka kematiannya bisa mencapai 60–70 persen, dan ini juga berlaku untuk kanker leher rahim,” ujarnya.
Meski demikian, upaya deteksi dini menunjukkan perkembangan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, jumlah perempuan yang menjalani skrining kanker serviks tercatat sekitar 150 ribu orang. Angka ini meningkat signifikan pada 2025 menjadi 666 ribu perempuan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 4 persen terdeteksi positif HPV, sementara sekitar 17 ribu perempuan menjalani pemeriksaan lanjutan melalui metode IVA test. Deteksi dini ini dinilai mampu menyelamatkan ribuan perempuan dari risiko kanker serviks stadium lanjut.
Namun, berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari stigma, ketakutan pasien, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan dan rumah sakit rujukan.
Pemerintah menargetkan cakupan skrining nasional mencapai 75 persen, lebih tinggi dari standar global sebesar 70 persen. Saat ini, metode pemeriksaan difokuskan pada HPV DNA yang dinilai lebih akurat dibandingkan pap smear, dan telah tersedia secara gratis melalui program cek kesehatan di puskesmas.
Kanker serviks pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, skrining menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko kematian, sekaligus meningkatkan peluang kesembuhan. (Amri-untuk Indonesia)


