lognews.co.id, Jakarta — Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional kembali menegaskan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju generasi emas. (06/5/26).
Seorang akademisi dari Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Hajah Ci Juliati Hisyam, MM, M.Si., menekankan bahwa kajian Sosiologi Perilaku Menyimpang tidak hanya membahas penyimpangan sosial, tetapi juga mengkaji pembentukan karakter individu dalam kehidupan masyarakat. Tak hanya berkecimpung di ranah akademik, ia juga kerap hadir sebagai narasumber dalam program televisi nasional untuk mengulas berbagai problematika hukum dan sosial, menunjukkan bahwa kepakarannya bersifat aplikatif dan relevan dengan dinamika kehidupan nyata.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semata ditentukan oleh capaian intelektual, melainkan sangat bergantung pada nilai-nilai karakter yang tertanam sejak dini. Dalam perspektif sosiologi, keluarga merupakan unit sosial paling dasar dalam membentuk norma, yakni aturan yang lahir dari kesepakatan kelompok masyarakat, mulai dari lingkup terkecil hingga skala yang lebih luas. Sementara itu, hukum dipahami sebagai aturan formal yang ditetapkan negara dan berlaku bagi seluruh warga, yang dalam konteks Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Ia menilai, tantangan pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan yang mampu melampaui kemampuan kognitif manusia dalam aspek tertentu. Namun demikian, aspek moral dan karakter tetap tidak tergantikan, sehingga pendidikan harus diarahkan pada pembentukan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan memiliki integritas.
Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, dan cinta tanah air menjadi elemen kunci dalam pendidikan karakter. Penanaman nilai tersebut harus dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum memasuki jenjang pendidikan formal, karena karakter merupakan pondasi utama yang akan membentuk perilaku individu di masa depan.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak dapat ditunda hingga jenjang pendidikan tinggi, melainkan harus dimulai dari pendidikan anak usia dini dalam lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan awal, guna memastikan lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kualitas moral yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. (Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



