الأحد، 12 نيسان/أبريل 2026

Ziarah yang Menghidupkan Sejarah: Menyusuri Jejak Tjut Nyak Dien di Tanah Pengasingan

تقييم المستخدم: 4 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتعطيل النجوم
 

Oleh : Ali Aminulloh 

lognews.co.id - Di sebuah sudut sunyi Taman Makam Pahlawan Gunung Puyuh, sejarah tidak sekadar dikenang, tapi ia dihidupkan kembali. Sabtu, 11 April 2026, langkah-langkah ziarah itu menjadi saksi bahwa perjuangan tak pernah benar-benar usai, selama masih ada yang menceritakan dan mendoakan.

Pagi itu, Syaykh Al Zaytun, A.S. Panji Gumilang bersama keluarga dan sahabat beliau tiba di kompleks pemakaman pahlawan Gunung Puyuh Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan. Beliau dibersamai puterinya, Sofiyah Al-Widad, mantunya Ust. Imam Muhajir Rahman serta cucunya Trivena Chandra Kirana. Turut membersamai pula sahabat beliau, Ali Aminulloh, Yudhiyanto, Toni Ismawan (komandan keamanan), dan Hartoyo Yusuf. Diantar oleh seorang warga setempat, Ibu Novi, rombongan berjalan menuju pusara seorang tokoh perempuan yang namanya telah menjelma menjadi simbol keteguhan: Tjut Nyak Dien.

Namun, ziarah ini bukan sekadar ritual tabur doa. Ada cara yang berbeda. Cara yang menjadikan makam bukan hanya tempat peristirahatan, tetapi ruang pembelajaran sejarah.

Ziarah sebagai “Kesaksian Sejarah”

Di hadapan maqbarah, Syaykh tidak hanya memanjatkan doa. Beliau bersaksi. Bersaksi atas kepahlawanan Tjut Nyak Dien dengan menghidupkan kembali fragmen-fragmen perjuangannya.

Menurut pandangan beliau, Tjut Nyak Dien bukan sekadar pejuang Aceh. Ia adalah salah satu mata rantai penting yang membentuk Indonesia sebagai sebuah entitas.

Ketika Aceh akhirnya ditaklukkan pada tahun 1904, setelah perlawanan panjang yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Tjut Nyak Dien, maka secara geopolitik, Hindia Belanda mencapai bentuk teritorial yang nyaris utuh seperti Indonesia hari ini.

Setahun kemudian, 1905, lahirlah kebijakan yang dikenal sebagai Politik Etis. Program ini membawa tiga agenda utama: irigasi, transmigrasi, dan edukasi.

Dari kebijakan kolonial itulah benih kesadaran kebangsaan mulai tumbuh.

Syaykh ziarah1000357978

Dari Pengasingan Menuju Kebangkitan

Pengasingan Tjut Nyak Dien ke Sumedang bukanlah akhir, melainkan bagian dari mata rantai sejarah yang lebih besar. Di tanah Sunda, beliau ditempatkan di lingkungan religius. Jauh dari medan perang, namun dekat dengan denyut spiritualitas.

Sementara itu, hasil dari “pendidikan kolonial” mulai melahirkan generasi baru. Anak-anak bangsa yang terdidik mulai menyadari identitasnya.

Muncullah organisasi-organisasi pemuda: Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes dan lain lain yang pada akhirnya melebur dalam satu ikrar besar: Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Hanya dalam waktu 23 tahun sejak pengasingan Tjut Nyak Dien, kesadaran kolektif itu tumbuh menjadi identitas bangsa: Indonesia.

Dan 17 tahun setelahnya, sejarah mencapai puncaknya melalui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh Soekarno.

Doa sebagai Penutup, Ingatan sebagai Awal

Di akhir ziarah, Syaykh menengadahkan tangan. Doa mengalir khidmat:

“Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa’fu ‘anha…”

“Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar…”

Doa itu bukan hanya untuk seorang pahlawan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara perjuangan dan keberlanjutan.

Epilog: Ziarah yang Menyadarkan

Ziarah ini mengajarkan satu hal: bahwa sejarah tidak cukup dibaca, tetapi harus dirasakan.

Di makam Tjut Nyak Dien, kita tidak hanya mengenang seorang perempuan pejuang. Kita sedang menatap cermin bahwa bangsa ini lahir dari pengorbanan, dipupuk oleh pendidikan, dan disatukan oleh kesadaran.

Dan mungkin, seperti yang tersirat dalam ziarah itu, tugas generasi hari ini bukan sekadar mengingat… tetapi melanjutkan. (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah