Mahasiswa Binaan Syaykh Al-Zaytun Teliti Kacang Tanah di Lahan Grumusol

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Abi Darin Alwi, salah satu dari 18 mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun yang mendapatkan beasiswa dari Syaykh Al-Zaytun, melakukan penelitian budidaya kacang tanah varietas Gajah di lahan grumusol seluas sekitar 200 meter persegi di Kampus Al-Zaytun, Indramayu. Penelitian tersebut dilakukan untuk menguji penerapan dosis dan perlakuan tertentu terhadap pertumbuhan kacang tanah pada karakteristik tanah grumusol.

Hal tersebut disampaikan Alwi saat ditemui langsung di lahan penelitian pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Penelitian ini menjadi bagian dari proses akademik yang dijalankan Alwi sebagai mahasiswa binaan Syaykh Al-Zaytun.

Lahan yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan fasilitas yang diberikan untuk mendukung proses penelitian. Dengan adanya fasilitas tersebut, Alwi dapat melakukan penelitian secara langsung sekaligus mengamati perkembangan tanaman dari waktu ke waktu.

Alwi juga menyampaikan apresiasi kepada Syaykh Al-Zaytun atas dukungan yang diberikan terhadap proses pendidikan dan penelitian yang sedang dijalankan.

"Terima kasih pertama kepada Syaykh Al-Zaytun yang sudah memberikan beasiswa dan fasilitas lahan untuk penelitian ini," Tegasnya.

Memilih Kacang Tanah di Lahan Grumusol

Pemilihan kacang tanah sebagai objek penelitian berangkat dari kondisi lahan di Kampus Al-Zaytun yang memiliki karakteristik tanah grumusol.

Menurut Alwi, karakteristik tanah tersebut menjadi salah satu alasan untuk menguji kemampuan tanaman kacang tanah melalui perlakuan dan dosis tertentu.

"Tanah yang berada di Ma’had Al-Zaytun merupakan jenis tanah grumusol. Dari jenis tanah yang dilihat, saya memutuskan untuk memilih ditanami jenis kacang tanah," jelas Alwi.

Kacang tanah dipilih sebagai salah satu tanaman palawija yang dinilai dapat dikembangkan pada kondisi lahan tersebut. Penelitian kemudian diarahkan untuk melihat respons tanaman setelah mendapatkan perlakuan tertentu.

Menggunakan Kotoran Hewan Fermentasi dan Sekam Bakar

Dalam penelitian tersebut, Alwi menggunakan perlakuan berupa kotoran hewan yang difermentasi dan dicampurkan dengan sekam bakar. Campuran tersebut kemudian diolah dan digunakan sebagai bagian dari perlakuan pada lahan penelitian.

"Parang hewan difermentasi, kemudian dicampur dengan sekam bakar, kita olah. Ternyata bisa. Ada harapan," Katanya. 

Perlakuan tersebut menjadi salah satu aspek yang membedakan penelitian yang dilakukan Alwi dengan penelitian sebelumnya. Selain perlakuan, dosis dan jenis tanah juga menjadi bagian penting dalam penelitian.

Novelty Penelitian pada Tanah Grumusol

Salah satu fokus utama penelitian tersebut adalah mencari novelty atau kebaruan dalam budidaya kacang tanah pada tanah grumusol.

Alwi menjelaskan bahwa penelitian mengenai kacang tanah dengan perlakuan tertentu sebelumnya sudah pernah dilakukan. Namun, penelitian tersebut dilakukan pada kondisi tanah dan dengan dosis yang berbeda.

"Di tempat lain ada yang melakukan hal yang sama dengan perlakuan yang berbeda. Berbeda itu dosisnya berbeda. Dan bukan di grumusol," jelas Alwi.

Menurut Alwi, penelitian dengan kombinasi perlakuan dan dosis yang digunakannya belum dilakukan pada tanah grumusol.

"Kebaruannya di tanah grumusol. Di tanah grumusol belum ada orang yang melakukan. Baru saya ini," ujarnya.

Dengan demikian, kebaruan yang ingin diuji dalam penelitian tersebut berada pada penerapan perlakuan dan dosis tertentu terhadap tanaman kacang tanah pada tanah grumusol.

Perbedaan Jenis Tanah, Perlakuan, dan Dosis

Alwi menyebut terdapat tiga aspek yang menjadi pembeda utama dengan penelitian sebelumnya, yakni jenis tanah, perlakuan, dan dosis.

"Gap-nya yang berbeda adalah jenis tanah, perlakuan, dan dosis," kata Alwi.

Menurut Alwi, perlakuan yang berhasil diterapkan pada jenis tanah lain belum tentu memberikan respons yang sama ketika diterapkan pada tanah grumusol.

Karena itu, penelitian tersebut diarahkan untuk melihat respons tanaman secara langsung sejak masa tanam hingga panen.

200 Meter Persegi, 48 Plot dan 1.680 Titik Tanam

Penelitian dilakukan pada lahan sekitar 200 meter persegi. Lahan tersebut dibagi menjadi 48 plot dengan ukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter.

Setiap plot terdiri atas 35 titik tanam. Dengan demikian, keseluruhan lahan penelitian memiliki sekitar 1.680 titik tanam.

"Ini 48 plot. Masing-masing plot itu kami bagi. Satu plot itu 35 titik tanam," Jelasnya. 

Pembagian tersebut dilakukan agar proses pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dapat dilakukan secara lebih terukur berdasarkan perlakuan yang telah ditentukan.

Memasuki 21 Hari Setelah Tanam

Saat ditemui di lokasi penelitian, tanaman kacang tanah telah memasuki sekitar 21 hari setelah tanam.

Alwi menyebut pertumbuhan tanaman sejauh ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan dosis dan perlakuan yang diterapkan.

"Ini sudah 21 hari dari masa tanam. Dan sesuai dengan dosis dan perlakuan dari peneliti, akhirnya sesuai," ungkap Alwi.

Namun, hasil tersebut belum dapat menjadi kesimpulan akhir. Tanaman masih harus melalui tahapan pertumbuhan hingga masa panen untuk mengetahui produktivitas dan kualitas hasilnya.

Hipotesis Masih Menunggu Pembuktian

Alwi optimistis perlakuan yang diterapkan dapat memberikan hasil sesuai dengan hipotesis penelitian.

"Hipotesis saya pasti bisa. Saya akan temukan cara dengan dosis ini," kata Alwi.

Meski demikian, keyakinan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses penelitian hingga masa panen. Hasil produksi nantinya akan menjadi salah satu indikator untuk mengetahui efektivitas perlakuan yang diterapkan.

Syaykh Disebut Telah Memanfaatkan Lahan

Selain sebagai lokasi penelitian, lahan tersebut merupakan fasilitas yang diberikan untuk mendukung kegiatan penelitian. Alwi juga menyampaikan bahwa Syaykh Al-Zaytun sebelumnya telah memanfaatkan lahan tersebut untuk kegiatan penanaman.

Menurut Alwi, metode atau perlakuan yang digunakan Syaykh Al-Zaytun dalam pemanfaatan lahan tersebut dapat saja berbeda dengan perlakuan yang sedang diuji dalam penelitiannya.

"Syaykh juga pasti sudah menanam di lahan ini, mungkin dengan cara dan perlakuan yang berbeda," ujar Alwi.

Perbedaan tersebut menjadi bagian dari penelitian yang sedang dilakukan, karena Alwi mencoba menguji pendekatan dengan dosis dan perlakuan yang telah dirancang dalam penelitian akademiknya.

Tinggalkan Jakarta untuk Fokus Penelitian

Demi dapat berkonsentrasi menjalankan penelitian, Alwi memutuskan meninggalkan Jakarta dan menyewa rumah di sekitar lokasi penelitian.

Keputusan tersebut dilakukan agar Alwi dapat fokus melakukan penanaman, perawatan, pengamatan, serta evaluasi tanaman secara langsung.

"Saya tinggalkan Jakarta, saya menyewa rumah supaya saya bisa fokus dalam penelitian dan saya menemukan kebaruan," Tegasnya Alwi.

Keberadaan langsung di lokasi penelitian membantu proses pengamatan tanaman yang dilakukan secara berkelanjutan.

Kacang Gajah, Bukan Garuda

Jenis kacang tanah yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah kacang tanah Gajah.

Saat menjelaskan jenis kacang yang digunakan, Alwi sempat berseloroh mengenai nama varietas tersebut dengan menyebut kacang Garuda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana wawancara yang santai dan bukan sebagai penjelasan ilmiah mengenai varietas.

"Kacangnya Gajah, bukan Garuda. Garuda asin kan, ada kacang Garuda," kata Alwi sambil berseloroh.

Adapun fokus utama penelitian tetap pada bagaimana kacang tanah varietas Gajah merespons kondisi tanah grumusol dengan perlakuan dan dosis tertentu.

Menunggu Hasil Panen

Penelitian tersebut masih berlangsung dan belum memasuki masa panen. Karena itu, jumlah dan kualitas hasil produksi belum dapat diketahui.

Alwi menyebut hasil akhir nantinya akan menjadi bagian penting untuk melihat apakah perlakuan yang diterapkan mampu menghasilkan pertumbuhan dan produksi sesuai dengan hipotesis penelitian.

"Kalau 200 meter ini kita melakukan perlakuan tadi, insya Allah bisa. Dengan proses, dengan perlakuan yang sama, bisa menghasilkan yang sama," Katanya Alwi.

Hasil panen nantinya akan menjadi data penting untuk menguji efektivitas perlakuan sekaligus melihat potensi penerapan metode tersebut pada lahan dengan ukuran yang lebih luas.

Ucapan Terima Kasih

Alwi menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung proses pendidikan dan penelitiannya.

Ucapan terima kasih pertama disampaikan kepada Syaykh Al-Zaytun atas beasiswa yang diberikan serta fasilitas lahan yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian.

"Terima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah memberikan beasiswa, membina kami, dan memberikan fasilitas untuk penelitian ini," Tegasnya Alwi.

Selain itu, Alwi juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Purnoko, Kaprodi Dr. Budi Rohman, serta Rektor UGJ, Pak Fakih, atas dukungan terhadap proses penelitian yang sedang dijalankannya.

Penelitian tersebut masih akan berlanjut hingga masa panen. Hasil akhir penelitian nantinya akan menjadi bagian penting untuk menguji hipotesis sekaligus melihat kebaruan penerapan budidaya kacang tanah pada tanah grumusol dengan perlakuan dan dosis tertentu. (Saheel untuk Indonesia)