lognews.co.id, Indonesia — Sejumlah siswa kelas 12 Ma’had Al-Zaytun angkatan Aventador 22 berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 ke berbagai perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Capaian ini menegaskan efektivitas sistem pendidikan terpadu berbasis asrama (one pipe education) yang diterapkan lembaga tersebut.
Dalam podcast bersama wartawan senior Nasution yang disiarkan dikanal youtube lognewsTV menayangkan pelajar berprestasi salah satunya mengenai keberhasilan yang ditunjukkan oleh tiga pelajar, yakni Faris, Dafa, dan Kotrunada Salsabila. Ketiganya diterima di kampus berbeda melalui jalur prestasi tanpa tes, sekaligus membawa visi melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3).
Kotrunada Salsabila lolos ke Institut Pertanian Bogor pada program studi Teknik Mesin Pertanian dan Biosistem. Sementara Dafa diterima di Universitas Brawijaya jurusan Agrobisnis Perikanan, dan Faris di Universitas Diponegoro program studi Teknik Elektro.
Sistem Terpadu Jadi Fondasi Keberhasilan
Para siswa menilai keberhasilan mereka tidak lepas dari sistem pendidikan berkelanjutan yang diterapkan sejak jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) dalam satu lingkungan pendidikan terpadu.
“Lingkungan di sini membentuk disiplin, kemandirian, dan kepemimpinan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, semua aktivitas terstruktur,” ujar Faris.
Sistem asrama juga dinilai memperkuat karakter sosial siswa, mulai dari toleransi, kerja sama, hingga kemampuan beradaptasi dengan beragam latar belakang.
Dafa menambahkan, lingkungan pendidikan yang sehat menjadi faktor kunci dalam membentuk pola pikir dan semangat belajar. “Tidak semua lembaga pendidikan memiliki ekosistem seperti ini, baik dari sisi pertemanan, fasilitas, maupun cara berpikir,” katanya.
Transformasi Karakter dan Prestasi
Selain capaian akademik, siswa juga aktif dalam organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler. Faris, misalnya, menjabat sebagai Wakil Menteri dalam organisasi pelajar serta aktif di klub sains dan karya tulis ilmiah.
Dafa terlibat dalam organisasi ekonomi serta kegiatan paskibra dan karate. Sementara Kotrunada fokus pada bidang pertanian, yang menjadi pijakan utama dalam menentukan pilihan studi lanjutnya.
Menurut Kotrunada, ketertarikannya pada sektor pertanian berangkat dari realitas di lapangan, khususnya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal di sejumlah daerah.
“Saya melihat langsung potensi lahan yang belum dikelola maksimal. Dari situ muncul keinginan untuk berkontribusi di bidang pertanian,” ujarnya.
Bimbingan Terpadu dan Wawasan Kebangsaan
Menjelang kelulusan, para siswa juga mengikuti program bimbingan terpadu yang memuat materi akhlak, ekonomi, strategi pemberdayaan umat, hingga wawasan kebangsaan.
Salah satu konsep utama yang ditekankan adalah prinsip “akar, batang, dan buah”, yang menggambarkan pentingnya fondasi kuat dalam pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas.
“Kalau fondasi kuat, maka hasilnya juga akan kuat, baik secara kualitas maupun kuantitas,” kata Kotrunada.
Dorong Gagasan 500 Pusat Pendidikan Nasional
Dalam diskusi tersebut, para siswa juga menyoroti gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan terpadu di Indonesia. Konsep ini dinilai sebagai solusi untuk mengatasi ketimpangan akses pendidikan, terutama bagi siswa berprestasi yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri.
Data nasional menunjukkan jumlah peserta SNBP jauh lebih besar dibandingkan daya tampung kampus, sehingga banyak siswa berprestasi yang tidak dapat melanjutkan pendidikan.
“Banyak yang ingin kuliah tapi tidak tertampung. Dengan adanya pusat pendidikan terpadu, akses bisa lebih merata,” ujar Faris.
Konsep ini mengintegrasikan pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual) dalam satu sistem pendidikan nasional yang terpusat dan berkelanjutan.
Komitmen Lanjut Pendidikan hingga S3
Ketiga siswa sepakat untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi dan kembali berkontribusi di dunia pendidikan, termasuk menjadi dosen di masa depan.
“Dengan ilmu, kita bisa membangun bangsa. Karena itu pendidikan tidak boleh berhenti,” kata Dafa.
Komitmen tersebut juga sejalan dengan nilai yang ditanamkan melalui Sapta Janji Dharma Bakti, yang menekankan disiplin, kejujuran, tanggung jawab, serta semangat pantang menyerah dalam belajar.
Membangun Generasi Pelanjut
Keberhasilan lulusan Ma’had Al-Zaytun ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan terpadu tidak hanya menghasilkan capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan visi kebangsaan.
Para siswa tidak hanya berorientasi pada pencapaian individu, tetapi juga memiliki komitmen untuk kembali membangun masyarakat dan sistem pendidikan di Indonesia.
Dengan kombinasi antara sistem pendidikan terstruktur, lingkungan asrama, dan penguatan nilai kebangsaan, model ini dinilai mampu menjadi salah satu referensi dalam pengembangan pendidikan nasional ke depan. (Amri-untuk Indonesia)



