الإثنين، 20 نيسان/أبريل 2026

Jajanan Legend, Blengep Cotot Makanan Khas Indramayu

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Indramayu – Kekayaan kuliner tradisional Indonesia terus menghadapi tantangan di tengah gempuran makanan modern. Salah satu yang masih bertahan adalah blengep cotot, jajanan khas dari Indramayu yang memiliki cita rasa unik sekaligus nilai budaya yang kuat. (19/4/26)

Blengep cotot dikenal sebagai kue tradisional dengan kombinasi rasa manis dan gurih yang khas. Nama makanan ini berasal dari tiga istilah lokal, yakni bleng yang merujuk pada makanan yang masuk ke mulut, lep sebagai respons lidah saat mencicipi, serta cotot yang menggambarkan sensasi mengunyah gula merah. Istilah tersebut merepresentasikan pengalaman makan yang unik, terutama saat isian gula merah di dalam kue meleleh ketika digigit.

Secara tampilan, blengep cotot memiliki tekstur lembut dengan isian gula merah yang lumer. Sajian ini biasanya dilengkapi taburan bawang goreng yang memberikan sentuhan gurih serta menghasilkan sedikit minyak alami yang menyatu dengan adonan. Perpaduan tersebut menciptakan rasa kontras antara manis dan gurih yang seimbang.

Bahan utama yang digunakan tergolong sederhana, yaitu singkong, gula merah, kelapa, dan kacang. Kandungan karbohidrat dari singkong menjadikan blengep cotot cukup mengenyangkan, sehingga kerap dijadikan alternatif menu sarapan oleh masyarakat setempat.

Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Singkong terlebih dahulu dikupas dan dikukus hingga matang, kemudian ditumbuk hingga halus. Adonan tersebut dibentuk bulat dan diisi campuran gula merah serta kacang, lalu disajikan dengan taburan bawang goreng di bagian atasnya.

Meski memiliki cita rasa khas, keberadaan blengep cotot kini mulai terbatas dan lebih banyak ditemukan di pasar tradisional maupun pelaku usaha mikro di wilayah Indramayu, seperti di Kecamatan Lohbener. Harga jualnya relatif terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Seiring perkembangan zaman, muncul berbagai inovasi varian blengep cotot, mulai dari versi original hingga tambahan topping kelapa atau bumbu manis. Namun demikian, versi tradisional tetap menjadi pilihan utama karena dinilai mempertahankan cita rasa autentik.

Blengep cotot tidak sekadar menjadi jajanan, melainkan bagian dari identitas budaya lokal yang mencerminkan kearifan masyarakat dalam mengolah bahan sederhana. Di tengah dominasi makanan modern, pelestarian kuliner tradisional seperti ini menjadi penting agar tidak hilang dari generasi mendatang.

(Amri-untuk Indonesia)