lognews.co.id, Kegiatan workshop jurnalisme warga oleh Smartfren comunity adalah hasil kerjasama antara Smartfren, Dalmadi Center, Panca Garda , Garda Stabilitas, dan Luwes dengan warga khususnya pegiat sosial dan pegiat seni di kabupaten Grobogan Jawa Tengah. (25/2/2024)
Dalam pembukaan workshop Badiatul M Asti menekankan pentingnya menjadi jurnalis warga yang baik dengan tidak menyiarkan berita hoax
Dalam paparan narasumber lainnya, Saiful Anwar lebih menekankan pada perbedaan antara jurnalis warga dan jurnalis yang diakui dewan Pers, adalah pada media resmi apabila melanggar kode etik jurnalistik bisa diadukan ke Dewan pers terlebih dahulu, beda dengan jurnalis warga yang tidak memililk atau tidak tergabung dimedia resmi, maka jikalau ada kasus dapat dipidana dengan pelaporan ke pihak berwajib.
Sebagai contoh pada kasus banjir di Grobogan, ternyata banyak berita yang beredar tentang banjir tapi tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Dalam acara ini diharapkan kedepan kerja kerja jurnalistik yang dikerjakan warga biasa jangan sampai melanggar hukum, padahal kita mengetahui bahwa jurnalis warga itu tidak punya media resmi dan kalau ada kasus pidana bisa saja dilaporkan ke aparat yang berwenang.
Memang jurnalis warga pada tahun 2004, sudah dikenal dengan adanya seorang warga Aceh memvideokan tsunami Aceh.
Peristiwa lain yang lebih besar juga terjadi pada saat bentrokan suporter dan warga Grobogan
Telah tersebar berita hoax tentang adanya korban, kerugian di daerah godong tapi tanpa melakukan pengecekan kebenaran tulisannya
Sehingga penulis mendapatkan tuntutan dari komunitas dari Jepara.
Acara workshop jurnalisme warga dibuka jam 10 di Luwes, dihadiri oleh 30 pegiat sosial dan kesenian dan Lazisnu di Grobogan melaluiPenyampaian materi narasumber acara, Saiful Anwar Jurnalis Muria news, dan Badiatul M Asti(Citizen journalism dan Pemred khazanahgrobogan.com ditutup dengan kutipan "Orang boleh pandai setinggi langit, Tapi menulis adalah keabadian". (Sumarjo untuk Grobogan)



