الأحد، 10 أيار 2026

Rektor IPDN Prof. Dr. H. Ermaya Suradinata: Jiwa Bangsa Indonesia Ada di Al-Zaytun

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, INDRAMAYU – Prof. Dr. H. Ermaya Suradinata, S.H., M.H., M.S. selaku Rektor dan Gubernur Institut Pemerintahan Dalam Negeri menjadi narasumber dalam acara Simposium Pelatihan Pelaku Didik ke-44, Ahad, 10 Mei 2026, yang diselenggarakan di Ma'had Al-Zaytun, Indramayu.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ermaya menyampaikan kesan mendalam atas kunjungannya ke lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Ia mengungkapkan bahwa meskipun telah banyak mengunjungi berbagai daerah di Indonesia, pengalaman berada di Al-Zaytun memberikan kesan tersendiri.

“Sebagai putra daerah Indramayu, tepatnya dari Ujung Aris, ini merupakan pertama kalinya saya memasuki Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Saya merasakan kebahagiaan bisa bertemu langsung dengan seluruh civitas di Ma’had Al-Zaytun. Tempat ini memberikan nuansa yang seolah tidak hanya merepresentasikan Indonesia, tetapi juga dunia,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap gagasan besar yang dibangun oleh pimpinan dan pengelola yayasan Al-Zaytun. Menurutnya, apa yang telah diwujudkan di lembaga tersebut layak menjadi kebanggaan bersama masyarakat Indonesia.

Selama ini, Prof. Ermaya dikenal memiliki pengalaman panjang dalam mendidik berbagai kalangan, mulai dari rektor, menteri, hingga pejabat tinggi negara. Namun demikian, ia menilai praktik pendidikan yang diterapkan di Ma’had Al-Zaytun memberikan pengalaman berbeda karena menekankan pembelajaran secara langsung.

“Yang saya lihat di sini adalah praktik nyata. Ini seharusnya juga menjadi bagian dari hasil pendidikan di lembaga-lembaga strategis nasional,” katanya.

Dalam pemaparannya, Prof. Ermaya juga menyinggung pentingnya pembentukan karakter berbasis nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Ia menilai pendekatan pendidikan yang diterapkan di Al-Zaytun mencerminkan keseimbangan tersebut, termasuk melalui penguatan nilai-nilai tasawuf sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya sistem pendidikan berbasis asrama sebagai sarana pembentukan karakter, disiplin, serta integritas peserta didik secara menyeluruh.

Dalam sesi materi utama, Prof. Ermaya memaparkan tentang posisi Indonesia dalam konteks geopolitik dan geostrategi global, regional, hingga nasional sebagai landasan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam dinamika besar, ditandai dengan persaingan kekuatan global, perubahan tatanan ekonomi, serta konflik kepentingan antarnegara. Dalam situasi tersebut, Indonesia dituntut mampu membaca dan memanfaatkan posisi strategisnya.

“Indonesia memiliki peran penting di kawasan Asia Tenggara yang menjadi jalur strategis ekonomi dan politik dunia. Namun tantangan seperti persaingan global dan ketergantungan terhadap kekuatan besar harus diantisipasi dengan kebijakan yang cerdas dan berdaulat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan utama bangsa Indonesia terletak pada ideologi Pancasila. Oleh karena itu, pendidikan Pancasila dinilai menjadi kunci dalam membangun karakter generasi yang tangguh dan berintegritas.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam menanamkan nilai kebangsaan, persatuan, serta identitas nasional.

Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, Prof. Ermaya menegaskan pentingnya sinergi antara strategi geopolitik dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

“Strategi global harus diimbangi dengan SDM yang unggul, adaptif, dan berkarakter. Tanpa itu, posisi strategis Indonesia tidak akan memberikan dampak maksimal,” tegasnya.

Sebagai penutup, Prof. Ermaya menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan spiritualitas harus berjalan beriringan dalam membangun generasi masa depan.

“Jiwa bangsa dan negara Indonesia ada di Al-Zaytun. Kita juga harus memiliki azas seperti empat pintu jika ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di Ma’had Al-Zaytun diajarkan bagaimana membangun kemanusiaan dan ketuhanan yang kuat. Ilmu tasawuf, menurut saya, adalah ilmu tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. (Adisti untuk Indonesia)