Indramayu, Lognews.co.id – Upaya membangun kemandirian pangan berbasis pendidikan terpadu menjadi sorotan dalam kegiatan akademik di Kampus Al-Zaytun, Ahad (19/4/2026). Guru Besar Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Gembong Priyatmo Arbyantono, M.Sc., menilai bahwa sistem yang dikembangkan di Al-Zaytun menunjukkan model pertanian modern yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya bertajuk “Agroteknologi dengan Strategi Rendah Emisi dengan Teknologi Langit”, Prof. Gembong menyoroti pentingnya transformasi pertanian di tengah meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas produksi agro.
Menurutnya, pertanian saat ini tidak hanya dituntut produktif, tetapi juga harus mampu menekan dampak lingkungan melalui pendekatan rendah emisi, pemanfaatan mikroorganisme, serta manajemen lahan yang tepat.
Kemandirian Pangan Sudah Terlihat di Al-Zaytun
Dalam sesi wawancara bersama lognewsTV, Prof. Gembong menyampaikan bahwa Al-Zaytun telah menunjukkan praktik nyata kemandirian pangan.
Ia menilai sistem yang ada tidak hanya memproduksi beras secara mandiri, tetapi juga mengelola berbagai sumber pangan lain seperti ikan tuna, bandeng, hingga patin. Bahkan, limbah hasil produksi dimanfaatkan kembali menjadi pupuk, sehingga menciptakan siklus pertanian yang berkelanjutan.
“Semua limbah diolah kembali, menjadi pupuk untuk tanah, food untuk manusia, dan feed untuk hewan. Ini menunjukkan sistem yang sudah terintegrasi,” ujarnya.

Ia juga menggambarkan suasana lingkungan Al-Zaytun sebagai kawasan yang asri dan kaya oksigen.
“Masuk ke sini seperti masuk ke hutan, sejuk, penuh tanaman. Secara alami, Al-Zaytun sudah menjadi bagian dari paru-paru dunia,” tambahnya.
Selain itu, konsep kedaulatan pangan yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada beras atau karbohidrat, tetapi pada keberagaman pangan. Dalam pandangannya, variabilitas produk menjadi bagian penting dalam membangun sistem tata niaga dan ketahanan pangan yang kuat.
Pendidikan dan Pertanian Menyatu
Prof. Gembong menilai bahwa keunggulan Al-Zaytun terletak pada integrasi antara pendidikan dan praktik langsung di lapangan.
Menurutnya, model pendidikan seperti ini masih sangat jarang ditemui.
“Selama ini saya baru melihat dua model seperti ini. Yang pertama saya kembangkan sendiri, dan yang kedua ada di Al-Zaytun. Selain di sini, saya belum pernah melihat pendidikan yang menyatu dengan pertanian seperti ini,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan di sektor pertanian hanya dapat berhasil jika didukung tiga hal utama, yaitu pembentukan karakter, edukasi, dan pembangunan ekonomi.
Di Al-Zaytun, ketiga aspek tersebut dinilai telah berjalan bersamaan. Santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik pertanian dan kegiatan lain seperti perkapalan.
“Setinggi-tingginya ilmu, kalau tidak diamalkan, tidak ada artinya,” tegasnya.
Model ini dinilai mampu menumbuhkan semangat generasi muda untuk memahami dan mencintai sektor pertanian, yang selama ini cenderung kurang diminati.
Tantangan Generasi Muda dan Peluang Pertanian
Lebih lanjut, Prof. Gembong menyoroti fenomena global di mana sektor pertanian mulai dilirik oleh para tokoh dunia seperti Mark Zuckerberg, Elon Musk, Bill Gates, hingga Jack Ma.
Menurutnya, sektor pangan merupakan sektor yang sangat menguntungkan, namun di Indonesia masih belum dikelola secara optimal karena kurangnya profesionalisme dan manajemen.
Ia menilai bahwa generasi milenial cenderung enggan terjun ke pertanian karena takut rugi. Padahal, dengan manajemen agro yang tepat, sektor ini memiliki potensi keuntungan yang besar.
Untuk itu, ia mendorong model pendidikan berbasis replikasi, di mana satu orang mampu mendidik seratus orang lainnya, sehingga terbentuk kekuatan kolektif dalam membangun ketahanan pangan.
Dorongan Penguatan Riset dan Politeknik
Terkait rencana pengembangan Politeknik Tanah Air di Al-Zaytun yang berfokus pada pertanian, perikanan, peternakan, dan perkapalan, Prof. Gembong menilai langkah tersebut sangat strategis.
Namun ia menekankan pentingnya penguatan riset sebagai fondasi utama.
“Dalam satu lembaga pendidikan harus ada lembaga riset. Dari situlah lahir inovasi dan teknologi baru,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan harus mengedepankan praktik langsung di lapangan, bukan hanya teori, serta didukung oleh konsep pelestarian alam yang kuat.
Kedaulatan Pangan Perlu Pendekatan Realistis
Dalam pandangannya, konsep swasembada pangan tidak selalu harus diukur dari ekspor.
Ia menilai bahwa surplus produksi di tingkat lokal, antar daerah, hingga provinsi sudah menjadi indikator penting keberhasilan.
Menurutnya, tantangan utama saat ini terletak pada kondisi lahan, perubahan iklim, serta kurangnya penguatan ilmu pengetahuan di sektor pertanian.
Siap Dukung Pengembangan ke Depan
Prof. Gembong juga menyatakan kesiapannya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan konsep ini, termasuk kehadirannya dalam agenda simposium mendatang.
Ia pun memberikan pesan khusus kepada pimpinan Al-Zaytun.
“Syaykh Al-Zaytun adalah ksatria yang mengajarkan santri menjadi pejuang pangan,” tuturnya.
Menuju Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih modern, mandiri, dan berkelanjutan.
Dengan integrasi antara pendidikan, teknologi, dan praktik langsung di lapangan, Al-Zaytun dinilai berpotensi menjadi model pengembangan pertanian masa depan di Indonesia. (Saheel untuk Indonesia)



